Memunguti Kunci yang Berserakan

Memunguti Kunci yang Berserakan

Robert Frederick Blum (1857-1903)

Hari ini 14 Februari, kaki menginjak kembali tanah air Indonesia raya. Setelah sekian lama pergi ke tanah rantau mencari penghasilan. Kami, saya dan beberapa teman kembali dengan rencana dan tujuan masing-masing, hanya sisa satu orang yang masih tinggal bersama, bernama Budi Bodong. Ia mengaku tangannya sering tidak membawa keberuntungan, hal ini terbukti adanya intensitas ketika menggosok kertas-kertas “pengaduan nasib” sering tidak mendapatkan hasil yang maksimal, lebih sering gagalnya dan lebih kerap jatuhnya. Meski ia mengaku, tak serta merta saya percaya kesialan nasib digenggaman tangannya maka, kini saya yang mendelegasikan penuh perihal penginapan selama tinggal di Jakarta sebelum kembali ke kampung masing-masing. Aneh, perihal memasan hotel pun di tangannya memanggul ketidak-beruntung-an dan ketidak-nyaman-an karna memilih hotel yang “anu” pokoknya. Namun, bukankah anda sekalian tahu bahwa ruang diantara rintik hujan lebih besar daripada tetesnya?

Setelah menanggung ketidak-beruntung-an dan ketidak-nyaman-an tersebut, kami tetap tegak berdiri melanjutkan apa yang harus dilakoni yaitu, melaksanakan *tradisi silaturahmi—kunjungan kebudayaan kepada teman-teman Rumah Tumbuh di Pamulang. Perjalanan menuju Pamulang itu, kami terpaksa memesan taxi online karena selain buta peta jalanan Ibu Kota dan rute kota satelitnya, kami mengambil solusi yang mudah. Beruntunglah, saat taxi online yang kami pesan datang, dikendarai oleh driver yang soft spoken sekaligus mempunyai perenungan hidup dalam menuju perhelatan di Pamulang. Inilah ruang besar dan luas di antara derasnya tetesan hujan yang saya maksudkan.

Bersama dengan bapak driver itu kami berbicara tentang ekonomi hidup yang aneh, dan seketika membuat saya masuk dalam kesadaran; Tuhan benar-benar terlibat dalam kehidupan, sekaligus menutup erat mulut guru matematika yang hanya mengajar tentang angka tanpa manariknya ke dalam pemanfaatan hidup dan pemaknaan spiritual.

Dialog kami sepanjang perjalanan lebih-kurang satu jam masih dalam satu bahasan dan tema yang sama, tidak berubah. Kami membicarakan ekonomi hidup yang membuat kami merasa aneh dan meyakini adanya tangan gaib yang membantu mengendalikan hidup seperti kalimat pada paragraf di atas yaitu, Tuhan.

Jika, dipikirkan dengan logika matematika seperti halnya ketika kita diajar oleh bapak/ibu guru matematika di dalam kelas untuk membeli kebutuhan bahan primer perbulan senilai Rp. 2.000.000, maka hasil pendapatan dari bekerja yang harus diperoleh dalam satu bulannya mesti harus di atas nominal angka kebutuhan belanja bahan primer tersebut. Jika, kurang dari nominal angka Rp. 2.000.000, maka kebutuhan bahan pokok tidak mungkin bisa terbeli. Apalagi kebutuhan bahan sekunder atau tersier, itu mustahil terbeli.

Oleh karena itu, untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan primer sekaligus sekunder dan tersier, atau untuk menggapai sebuah keinginan membeli hidup harus melalui prosesi budaya maka, setiap detiknya manusia memikirkan dan mengerjakan sesuatu dalam bidang apa saja agar dapat menghasilkan angka-angka. Bila perlu dengan dingin tega “membunuh” sesamanya.

Hidup itu sangat aneh dan lucu, setelah tahu membeli hidup sangat amat mahal lalu, ia (manusia) mau atau tidak, berupaya memutar balikan, menjatuh bangunkan pikiran dan raganya untuk mencari serta mengumpulkan sebanyak-banyaknya angka-angka semu. Sampai lupa melalui prosesi ini tak jarang dikemudian waktu menerima konsekuensi untuk mengeluarkan tambahan biaya-biaya kosong diantaranya, ke psikolog-sikolog.

Kalau dalam hidup kita benar-benar mengimani logika di atas untuk berjalannya sebuah kehidupan, rasanya kita tidak akan mungkin mendapat titik poin yang akurat untuk mengatakan bahwa kita tetap akan bisa menjalani dan  memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup. Hidup menjadi hopeless. Bagaimana mungkin orang dengan penghasilan yang amat sangat minim berani berkeluarga, berani beranak pinak, berani membeli kendaraan dan bahkan membeli “hidup” yang serba mahal di zaman ini?

Namun, pembaca sekalian harus tahu bahwa, matematika hidup tidak selinear itu.

Saya mengalami sendiri, Bapak saya seorang guru swasta gajinya hanya “sebatas” bisa untuk menyalakan bara agar dapur tetap ngebul. Ibu saya sebagai ibu rumah tangga. Namun, dengan pendapatan yang sebatas tersebut mereka bisa membayar SPP sekolah saya dan saudara saya sampai lulus, bahkan sampai sarjana. Bisa membiayai kebutuhan saya dan saudara saya dalam bidang bulutangkis, dimana kita semua tahu olahraga ini biayanya tidak sedikit. Belum lagi biaya listrik, transportasi, pulsa, dan perintilan-perintilan kebutuhan hidup lainnya.

Kalau kita menghitung dengan logika matematika cerita singkat dari saya, rasa amat sangat kurang dan tidak masuk. Besar pasak daripada tiang. Akan tetapi dari cerita paragraf di atas, kita membuktikan bahwa matematika hidup tak selinear itu, dan Tuhan benar-benar terlibat dalam kehidupan sekaligus “membungkam” mulut besar guru atau orang matematika.

Dan kini, kita semua bisa pahami bahwa matematika hidup jauh amat sangat terbalik dari apa yang sering bapak/ibu guru matematika jelaskan dan ajarkan kepada kita.

Atau memang jangan-jangan, manusia Indonesia memang diberikan bakat tersendiri oleh Tuhan yang bernama kenekatan, yang mana kosa kata ini tidak terdapat padanan kata yang sama dalam bahasa manapun. Atau mungkin juga manusia Indonesia memiliki kedekatan secara khusus terhadap Tuhan yang memiliki saham 100% dalam kehidupan ini. Sehingga rasa takut menghadapi kemiskinan, kesengsaraan dalam perjalanan ke haribaan amatlah tipis atau bahkan jangan-jangan tidak ada rumusannya di dalam prinsip hidupnya manusia Indonesia. Lalu, dengan kenekatan dan mungkin merasa memiliki kedekatan kepada Yang Maha itulah manusia Indonesia nekat “membeli hidup” yang kita semua tahu amat sangat mahal dan berani menantang logika matematika yang dicontohkan pada paragraf-paragraf sebelumnya.

***

Dialog kami, dengan driver tidak hanya basa-basi semu. Dialog ini bagi kami adalah dialog yang sangat bernas. Diantara kemacetan jalan dan bising suara klakson Driver yang soft spoken tersebut menyampaikan kalimat ajaib, bahwa; seringkali Mas, dalam hidup saya merencanakan banyak sesuatu tapi, tak pernah tergapai alias gagal. Namun, jika go with the flow banyak sekali ledakan hasil yang tak terduga.

Mendengar kalimatnya, pikiran saya langsung teringat lirik lagu Band yang di gawangi “Penyembah Wit” alias FSTVLST dengan judul: GAS!, Kira-kira begini liriknya:

“Berjalan tak seperti rencana

Adalah jalan yang sudah biasa

Dan jalan satu-satunya

Jalani sebaik-baiknya”

Ya, berulang kali kita mengalami, berulang kali kita menjalani perencanaan-perencanaan yang gagal dari rencana-rencana yang masih remeh temeh levelnya, sampai perencanaan-perencanaan besar dalam hidup. Namun, apa saja yang tidak terencanakan, ikuti alur cerita dari skenario Yang Maha lalu, jalani sebaik kita bisa seringkali muncul sebagai pencapaian tak terduga dan tiba-tiba yang memang sedari dulu kita bayangkan, kita impikan, kita inginkan. Sepatah kalimat yang keluar dari mulut seorang driver menyadarkanku bahwa, kita benar-benar tidak punya kendali atas ruang dan waktu dalam hidup.

Atas ke-tidakpunya-an kendali ruang dan waktu pikiranku menuju cakrawala yang tak terbatas. Aku jadi mengingat Kiai Khos Desa Gondoharum mungkin tidak bagi orang lain, tapi minimal bagi saya pribadi. Pengaruh terbesarnya kepada hidup saya salah satu diantaranya adalah merenungi sekaligus menyadarkan bahwa diri kamu itu hanya sekedar “Wayang”.

Selaras dengan filosofi wayang tersebut mulut saya menggumam lirik lagu:

“Mungkin kita sampai

Mungkin saja tidak

Tugas kita hanyalah berjalan” (The Jeblogs)

Berapa persen saham kita (manusia) kepada diri, pikiran dan apa saja dalam hidup. Saya rasa tidak punya. Dan ya, 100% sahamnya dimilikiNya. Maka, memang betul kiranya ucapan yang sering terdengar dari Si Miskin(kami semua) selain untuk membesarkan hati tapi benar kiranya jika hidup hanya sebatas seperti wayang yang hanya mampu menjalani-melakoni, “Tugas kita hanyalah berjalan” kata The Jebogs. Tidak untuk merencanakan apapun dari hal yang remeh temeh sampai yang besar-besar.

Sebagai pungkasan atas ruang dan waktu yang tak bisa kita kendalikan maka, di dalam lajur jalan hidup yang mana pun; Akulah Si papa yang sentosa/ terserah engkau menilainya/ dengan hadiah apa saja/ kuterima dengan lapang dada..// penulis.

Noted; Dan aku bertanya, Apa dengan merencanakan ada nilai ke-Aku-an yang tertutup dengan samar? sehingga seringkali gagal, sebagai peringatan dari Tuhan?

***

Setibanya kami, saya dan Budi Bodong di titik yang telah kami tentukan sesuai arahan teman-teman Pamulang. Sebelum perjumpaan, langsung saja kami meringkuk masuk ke Warteg Kharisma. Tanpa basa-basi memesan menu-menu dengan teknologi touch screen. Mulut Budi Bodong yang sudah sange pun melahap hidangan sampai pada puncak orgasmenya menyampaikan kalimat; “Bieyuh..makan cukup begini saja ternyata enaknya melebihi restoran manapun”. Barangkali hidup memang tidak selalu harus yang mewah-mewah dan besar-besar. Apalagi untuk urusan perut. Kesadaran seperti ini pun baru-baru ini kutemukan jua adanya. Kalau makan ternyata tidak perlu restoran atau kaki lima pinggir jalan, tidak perlu mahal atau murah, bahkan tidak lagi perlu cita rasa enak atau tidak. Asal kebutuhan tubuh tercukupi pun udah cukup.

Seperti halnya alat transportasi, terkadang yang kita beli adalah waktu, bukan lagi biaya tiketnya. Apapun media transportasinya, berapapun harga tiketnya, asal bisa secepat mungkin dan seefektif mungkin membawa kita menuju alamat tujuan, kita berani membelinya. Kita tidak butuh lagi harga paling rendah, tapi kita hanya butuh waktu paling cepat. Mengapa? Karna jatah pengosongan kepala dari pikiran-pikiran yang berat dan rumit amat sangat singkat, sebagai contoh diri kami yang rantau ke luar negeri meninggalkan sanak-famili sepanjang tahun hanya diberi jatah libur beberapa hari. Maka, membeli tiket transportasi apapun dengan harga berapapun yang kita beli bukan berarti merasa diri kaya raya (selalu dalam doa), akan tetapi itulah usaha yang bisa kami bisa lakukan untuk segera melepas rindu kepada yang tersayang.

***

Seusai mengisi “bahan bakar”, kita lanjutkan perjalanan ke dalam perhelatan. Disambut beberapa kelompok teman sebaya menggunakan baju band favorit masing-masing.

Perhelatan di Pumulang diantaranya adalah pertemuan antar aliran musik, beberapa di antaranya mengusung musik underground beraliran Punk.

PUNK apa definisinya? Tak perlu lagi kiranya saya menjelaskan kepada pembaca yang hampir semua telah memiliki dan setiap saat memegangi gawainya yang dapat mengakses internet untuk bertanya tentang apa saja.

Saya jadi ingat dulu sekali pernah menulis di handphone yang sudah menemukan ajalnya, sedikit masih ingat beberapa patah kalimat tulisannya “Hidup itu Blues, Sikapi dengan Punk”

Entah sama atau berbeda namun, Punk bagi saya pribadi adalah kesadaran hidup untuk memberi kesaksian sekaligus dengan gagah berani bersikap menghadapi segala aral rintang kondisi keadaan zaman. Seperti halnya Guru Rendra yang menegaskan sikap hidupnya dengan terang-terangkan memihak kepada mereka yang tertindas. Orang-orang miskin, orang-orang terpinggirkan, orang-orang terhinakan, orang-orang yang ludahi, diberaki, diledek oleh impian-impian, dan orang-orang yang kalah dalam pergulatan.

Beliau benar-benar sadar akan pemilihan sikapnya dalam hidup, Ia mengukuhkan dirinya sebagai “Si pemberi kesaksian zaman” dan sikap hidup tersebut dirumuskan secara baik dalam bait sajak:

“Aku mendengar suara

Jerit hewan yang terluka

Ada orang memanah rembulan

Ada anak burung terjatuh dari sarangnya

Orang-orang harus dibangunkan

Kesaksian harus diberikan

Agar kehidupan tetap terjaga”

Mungkin berbeda dari pandangan umum yang menilai Punk harus menggebu-gebu, meledak-ledak selalu memberi kesan perlawanan, pemberontakan dan merespons keadaan selalu dengan tangan mengepal. Namun, melihat kesadaran hidup Guru Rendra beliau juga patut dijuluki sebagai seorang punkers yang mana melalui kesadarannya ia menunjukan sikap untuk menunjukan keberpihakannya berdiri dipihak yang mana dan membela siapa. Bagi saya perbedaan pandangan umum terhadap punk dan sikap dari Guru Rendra hanyalah soal ekspresi namun, secara isi menurut saya mempunyai spirit yang sama. Melihat-menyaksi-berkesadaran-mensikapi!

***

Tidak ada yang kebetulan dalam hidup, semua sudah tertulis dalam Lauhul mahfuz. Begitu juga saat kami masuk ke pintu perhelatan lirik lagu pertama yang terdengar dalam telinga kami adalah Band Punk berasal dari daerah Klaten:

“Bersandarlah di pundakku bila kau lelah

Menangislah di pelukku kalau kau mau

Hidup memang begitu indah

Hanya itu yang kita punya..” (The Jeblogs)

Anehnya dalam lirik lagu di atas Jeblogs lebih menggunakan frasa penawaran “Menangislah di pelukku kalau kau mau/ Menangislah di pelukku kalau kau mau”. Disadari atau tidak oleh personilnya, dengan menggunakan frasa penawaran seolah menggugah daya telisik saya yang agak nakal: dalam lirik bagian tersebut tidak ada rasa sebagai pengingat atau nasihat terhadap sesama bahwa, setelah atau bahkan sebelum semua usaha dan kerja keras kita menjadi tangis atau pun tawa alangkah baiknya menyerahkan segala urusan pada Yang Maha. Namun frasa dalam lirik tersebut saya yakini sebagai penawaran tapi bukanlah  kita sebagai sesama manusia ke manusia yang menyampaikan atau menawarkan, akan tetapi Tuhanlah terhadap manusia. Mengapa? Karena Tuhan telah memberi anugrah berupa akal dan rasa yang diberikan kepada manusia untuk di olah agar menjadikan diri bisa berdaulat, dan dengan daulat diri tersebut manusia bisa menentukan sikapnya terhadap hidup. Yang mungkin akan ditagih Tuhan dari manusia atas sikapnya dalam penentuan keputusan “mau atau tidak” untuk menyerahkan segala urusan kepadaNya.

Tawakal, begitu Simbah bilang. Maka, sekarang bersikaplah!

Lagi dan lagi “sikap” menjadi diksi paling amat mahal dalam deskripsi catatan perjalanan ke Pamulang. Seperti pada pembahasan sebelumnya sikap sebagai tanda kesadaran serta menunjukan keberpihakan pada siapa dan berdiri di pihak yang mana.

“Hidup memang begitu indah

Hanya itu yang kita punya..”

Barangkali sikap memasrahkan segala urusan kepada Yang Maha menjadi satu-satu keindahan dalam hidup. Pasrah bukan bermakna kalah, tapi bermakna keikhlasan diri dalam menerima kenyataan keadaan, sebagai bentuk rasa syukur atas kemudahaan untuk menjadi hamba Allah yang sejati.

***

Di Pamulang pembicaraan kami luas tak terbatas, diskusi kami dalam tak berdasar. Bukan untuk terlihat gagah, bukan untuk memberi kesan sangar, hanya saja untuk membesarkan hati diri kita masing-masing yang sering terpinggirkan, terhinakan, dan kalah dalam berbagai macam pergulatan. Kami berbicara apa saja. Kalau pakai lirik dari Sawung Jabo;

“Kami berbicara tentang kehidupan, berbicara tentang kebudayaan, berbicara tentang ombak lautan, berbicara tentang bintang di langit, berbicara tentang tuhan, berbicara tentang kesejatian, tentang apa saja..”

Meluas, kami berbicara pula tentang perasaan mangkel kami dengan menteri yang sok paling nasionalis itu, yang mengatakan bahwa pemuda-pemudi yang meninggalkan negaranya dengan tujuan menghidupi keluarga dengan entengnya dia anggap kami tak punya jiwa nasionalisme. Tau apa kau tentang Nasionalisme? tanyaku.

Padahal kita, saya khususnya, melatih dan mendidik bulu-tangkis di negara lain bukan karena tidak cinta terhadap balung-getihku,Indonesia. Simpulnya secara pribadi ada kecemburuan sosial terhadap pemerintah yang belum mengakui tenaga kerja kepelatihan dari cabor apapun sebagai profesi, layaknya profesi pada umumnya. Yang mana hal ini adalah masalah paling gawat bagi kami para pekerja kepelatihan yang mencari jaminan masa depan, karna itu pula menjadi gawat dalam proses pencarian tambatan, karna bingung pula kami menjawab pertanyaan calon mertuanya tentang pekerjaan. Arghhh…bajingan.

Sebagai pelaku kepelatihan saya mencoba mewakili yang mau terwakili untuk menyampaikan sebuah aspirasi agar pekerjaan sebagai pelatih dalam cabor apapun dianggap sebagai profesi, yang memiliki standarisasi gaji layaknya ASN dengan klasifikasi gelar pendidikan yang dikelompokan jadi golongan.

Sebagai pribadi melihat berbagai macam policy pemerintahan membuat diri pusing dan hopeless terkhusus bekerja sebagai pelatih yang belum diakui sebagai profesi. Tapi, hidup itu bukan soal hasil, bukan pula perkara di akhir, akan tetapi hidup adalah soal berjuang. Apapun hasilnya itu bukan lagi urusan. Termasuk upaya kecil berupa tulisan ini saya niati sebagaimana “Semut Ibrahim” yang menunjukan sikap keberpihakannya, meski dianggap sia-sia. Maka, dari itu kita para pelatih punya hak untuk menyampaikan aspirasi dan hak ini saya gunakan untuk mewakili yang mau terwakili, meskipun akan sampai mana aspirasi ini berjalan? Ya, Mbuh.

Tawakal.

***

Bekerja di luar negeri, memang membuat finansial terjaga dan relatif stabil. Tapi tidak membuat hati menjadi bangga amat, sama halnya bekerja di negeri sendiri dengan bidang apapun. Tapi ada satu hal yang membuat saya bangga menjadi orang Indonesia terhadap dunia termasuk orang lokal negeri yang kami tinggali karna kami bisa menunjukan pembelajaran dari leluhur kami yang mengolah jiwa-raga kami melalui tradisi dan budaya yang sangat menjunjung tinggi nilai adab dan rasa (manusia-memanusiakan). Kami bangga, merasa yakin dan percaya diri menang dari mereka orang-orang dari belahan bumi manapun.

Dalam olah-rasa sebagai masyarakat Indonesia saya merasa lebih tinggi ilmunya daripada mereka yang lahir dari didikan-didikan negara lainnya. Mungkin karna peradaban kami lebih tua,  terbaca dari beberapa tanda. Itu menurut saya, jika tidak terima ya, monggo saja. Sekali lagi mengulang kalimat pada paragraf di atas, semua dalam rangka untuk membesarkan hati dan diri kami masing-masing yang sering kalah dalam pergulatan.

Banyak dari orang tua kita, mbah-mbah kita mengolah diri, kemudian hasilnya ditularkan kepada anak-cucunya melalui tempaan dengan berbagai macam contoh laku dan nasihat atau petuah mungkin kalimat-kalimatnya singkat namun berdaya gugah semisal, “roso pangroso” merasakan apa yang dirasakan orang, “manjing sakjroning kahanan” menempatkan diri dalam situasi kondisi seseorang agar hati kita menjadi lebih peka untuk merasakan kesedihan dan kebahagiaan orang lain. Kalimat ini dimaksudkan agar setiap individu memiliki kepekaan hati terhadap sesama dalam sosial masyarakat. Setelah diri memiliki kemampuan tersebut harapan menjadi diri yang tidak mudah mengeluh saat menderita, karna ada yang jauh lebih menederita daripada kita. Saat bahagia tak perlu bereuforia berlebihan.

Andai saja semua para pejabat negeri ini mengetahui dan memahami petuah-petuah dari leluhur Indonesia, serta mau mentadabburinya sekaligus mempraktekkannya dalam setiap penetepan-penetapan kebijakan atau undang-undang menggunakan “rasa” sebagai rakyat atau mengingat istilah Emha Ainun Najib; “laba untuk rakyat”. Duh.. alangkah indah dan bahagianya menjadi warga masyarakat negara Indonesia yang merasa aman, nyaman, didukung, dilindungi oleh kebijakan dan undang-undang oleh para pemangku jabatan dalam negeri ini. Tak perlu lagi kami jauh-jauh pergi meninggalkan sanak famili, karna sudah merdeka dalam artian terjamin masa depan dan kesejateraan kami sebagai warga masyarakat Bangsa Garuda, Indonesia Raya.

***

Sebenar-benarnya masih banyak hal yang ingin saya tuliskan dan sampaikan kepada pembaca berkaitan dongengan kami bersama teman-teman di Pamulang, akan tetapi dalam hidup ada beberapa hal yang mesti kita ungkapkan ada pula yang mesti kita simpan dan endapkan sebagai bahan perenungan. Pun sebenar-benar ini hanya alibi dari bentuk “napas” kepenulisan yang sudah terasa megap-megap. Oleh karena sebab hal itu, tulisan catatan perjalanan ini saya tutup denga pernyataan, bahwa hidup seyogyanya memunguti kunci yang berserakan dalam perjalanan, untuk membuka ribuan pintu-pintu kemungkinan di masa yang akan datang.

Sekian, dan salam.

Dongguan, Feb-Maret 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *