Ruwatan Tanah Air Beta: Zico Albaiquni

Bogor dalam Fragmen I

Tetapi memang sudah dimulai sejak zaman raja-raja Eropa dahulu. 
kota ini hanya berisi peristirahatan dari Witte Paal
hingga De Grote Postweg yang memisahkan kota dan desa,
miskin dan kaya. lalu dari ribuan generasi, kami adalah
senyatanya wujud tinta kolonial yang permanen dalam lembaran
nasib buruk.

“1817. cahaya matahari terbit menjadi sebaran emas
di kawasan Hinterland. lalu Buitenzorg hanya
kawasan yang berisi mimpi indah dengan menindih
kelaparan, monopoli, dan pemerkosaan yang kami alami”

lalu seperti folklore yang tak berkesudahan
menjalar dalam bisik-bisik yang konstan. di antara
titik-titik lampu merah yang menjadi altar manusia modern
untuk pelan-pelan menyerahkan waktu hidupnya kepada
denyut nadi industri sampai di Jakarta sana.

tiap malam menziarahi pom bensin guna hidup yang dapat
membuat asap di dapur, aku melihat jurang dosa dalam bentuk
spanduk kredit kendaraan di tanggal tua dalam rayuannya
guna memudahkan mobilitas dan tren terkini.

apakah kemacetan di Bogor kini menjadi ritus yang rutin dilakukan
oleh orang-orang yang menjaga gerbang Purgatorium 
di pertigaan Dramaga, Cikampek, Cibungbulang agar kemasyuran
di kabupaten ini tetap terjaga?

Mei, 2026

Bogor dalam Fragmen II

hidup saat ini tidak lagi 
bertumpu pada kail dan jala
atau tongkat kayu dan batu jadi tanaman
yang populer itu karena lahan hijau
di Bogor ini sudah berganti menjadi
tumbuhan paling liar yang dipupuk oleh industri dan pancasila

deru mesin-mesin penghancur alam terdengar seperti hewan purba yang menggerus malam sampai
ke fondasi rumah warga. asap pembakaran membumbung
tinggi menjadi kabut sejarah yang perlahan menghapus ingatan 
tentang termasyurnya alam di sini.

jalan-jalan di kabupaten menarik garis lurus suatu peristiwa
tentang terbunuhnya pedagang kaki lima akibat perubahan lanskap 
yang perlahan membunuh desa. lalu kekacauan memperkosa
tanah leluhur dalam bingkai besar di istana negara
dalam berbagai nota kosong
penjualan kisah Siliwangi.

3 Juni 15:22 WIB
desa-desa yang sekarat
mengais & mengasihi kota yang lahir prematur
dengan ratusan ribu angka pengangguran
dan kegelisahan para penjudi.

Mei, 2026.

Sekian Kali Menyusuri Bogor

I
pernah suatu waktu aku tinggalkan kota ini
dengan bekas lipatan sprei di bawah ketiak yang membentuk pola tribal. melaju dari
barat ke tenggara, mengeja kapitalisme
yang tertulis tak karuan di jalanan Parung yang berlubang.
kota ini, dalam keberangkatanku itu, selalu memberi cakrawala baru.
pembangunan perumahan bersubsidi misalnya, aku sadari 
sebagai invasi geometris 
yang mengubur sawah, kearifan lokal, 
dan ingatan warga setempat.

rumahku berada di antara deretan sawit yang
dihiasi cerita-cerita soal kematian akibat perkelahian & tawuran pelajar
bahkan suatu waktu pernah akibat berebut perempuan. 

II
berpindah pindah dari Jasinga – Puncak,
gang gang gelap – ruang studi kampus.
di mana matahari tenggelam di kota ini
saat kami sekeluarga melaju dalam mobil carry bewarna abu tua
menuju taman safari? masih dapat kubayangkan, 
suara klakson saat itu tetap teguh pada denotasinya yang 
tidak menjadi liturgi modern pengganti
doa dan cara bercengkrama manusia dewasa ini.

sekian kali menyusuri kota ini,
hujan di Bogor yang memang tak pernah mengikuti konvensi musim
menjadi musik pengiring untuk
banjir di jalanan alun-alun kota yang mungkin bercampur
dengan air kencingmu dan bumbu balado jajanan kaki lima.

III
dalam jarak 75 kilometer ini
kuhitung ratusan ruko yang baru berdiri. mungkin dalam lima tahun
ke depan sebagian ruko-ruko tersebut akan menjadi lanskap heritage seperti Hambalang
dengan bingkai cerita “kegagalan manusia
dalam mengelola ambisi yang tumbuh tanpa menghadap kiblat” 
lalu aku melihat belasan mercusuar bewarna biru dan merah yang seharian penuh
memberi sinyal agar para pengendara menghilangkan capeknya 
di situ saja dengan sebotol kopi golda.
cuaca di kota ini mungkin akan sepenuhnya tetap menjadi musim hujan,
tentu itu bukanlah apa-apa apabila dibandingkan dengan tiga manusia kesepian
di Pulau Flannan yang gagal menjalani hidup karena cuaca. 

Mei, 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *