Lewat mesin kalbu kugali-gali makna hidup ini
walaupun puing-puing terkubur ruang dan waktu
lalu hampa menyelimutiku
akan kucari semua kata-kata yang bersembunyi
tanda-tanda di balik peninggalan reruntuhan
sebelum dan sesudah tercipta Bogor ini
1
Di jalan Parung aku melihat Tuhan
masih menghendaki hidup—
pengemis, pengamen dan pencopet
sebagaimana para ulama, tabib, pastor
dan seperangkat elemen baik
lainnya yang hidup
Menuju Ciampea-lah perjalananku
mendokumentasikan roda kehidupan:
Kebahagiaan adalah beban penderitaan,
yang berputar saling menghempaskan
2
Kahuripan adalah danau sepi para perindu
ketika rumput telah menjelma kenangan,
sedangkan capung dan kumbang menempuh jalan
kebimbangan, mencari rumah yang lama berubah:
Sisa-sisa Bogor, sia-sia aku saksikan putaran masanya.
3
Tak ada yang sama dalam menghadapi nasib
di dunia ini, Saudaraku!
sebagaimana Cibinong hadir sebagai saksi
antara pembangunan dan perkembangan
yang kian subur-berbunga bagai raflesia
di kolam kecil Kebun Raya:
Kijang-kijang kencana
Kujang kesepian di wajah tugunya.
4
Setelah itu, ke mana jalan mesti ditempuh?
Jembatan-merah sesak oleh gelombang
Manusia, sedangkan bendungan Katulampa roboh
tak kuat menahan air mata anak-anak kecil
Desa Rancabungur yang tak lagi punya tempat
bermain: banjir kesedihan di jalan raya
menimbulkan sampah di kelopak matanya.
5
Jauh di tepian barat
dendam Parungpanjang semakin
kuat dihantam badai debu pasir:
Mengapa cinta mengorbankan alam
yang begini kondisinya?
Mengapa batu andesit merenggut
nyawa masyarakatnya?
6
Jauh di tepian Selatan
langit Cisarua mendung kelabu
kabut Halimun beramai-ramai
menyelimuti perasaan penghuninya:
+ Mengapa orang-orang Arab menghuni vila-vila itu?
– Sebab di Arab tak ada hujan-kabut yang menyelimuti hasrat-nafsunya
+ Mengapa pula memilih puncak-cisarua itu?
– Puncak-cisarua adalah perbatasan gejolak hidup
antara cinta dan luka, sebagaimana peristiwa
macan tutul Gede-Pangrango melangsungkan akad
dengan macan kumbang Halimun Salaka,
tanpa penghulu di meja berbunga
7
Itulah sebabnya, Bogor berbeda dengan New Zealand
ataupun New-York dan Sdney:
Pamijahan dan Sukajaya adalah tumbal geografis
di mana cinta telah menyatu dengan alam seiring waktu
diterpa malapetaka, dan makhluk-makhluknya itu
sedang menantang raksasa tak bernama,
menimbulkan lubang kesedihan para pejalannya.
8
Saudaraku! Kenanglah, kenangkanlah Kota kita!
Bogor mana yang tak mengkhawatirkan
dari hidup ini?
Bagian Barat, Timur, Selatan, Utara, dan sekalipun bagian Tengah?
Hanya di Istana Bogor yang diberkahi tempat tidak perlu khawatir,
sebagaimana dahulu Kompeni Walanda betah menghuni lokasinya:
namun sekarang… Glow, Glow, Glow!
Cahaya kerlap-kerlip lampu malam
mendobrak mantra-gaib surya kencana, menghibur beringin tua
dan rasamala namun mengusir habitat elang jawa.
9
Cukup! Kita tak usah menangisi hidup ini
Memangnya Kota mana yang hari ini tak pernah menangis?
Kota-kan sawah-pun hari ini sedang menangis!
Tak ada tempat untuk Putri-malu memeluk
pangeran kodok, atau sunyinya Batu-tulis yang menunggu
para penghuninya untuk mendobrak silib, sindir, siloka
yang berada dalam tubuhnya: Aksara-aksara lampau itu
menjadi hitam-keruh bagaikan air comberan
di pasar Leuwiliang, semua orang enggan melihatnya,
semua orang enggan menyetubuhinya.
10
O, Salaka kala Salaka!
Langit mendung kelabu dalam tubuhmu
di sela-sela hutan pinus itu, kawah-ratu bergemuruh,
bagai gumam doa para sepuh
melagu rindu jauh di lorong kalbu:
Satu nisan di puncakmu,
menjadi sunyi di serat mataku-
11
Dengan beribu-ribu konflik di raga Kota kita, Saudaraku!
Sedang apa para leluhur di Arca-Domas itu?
Atau sedang apa para moyang kita di Gunung Kapur
yang sekarang diambil-alih tentara-batalion itu?
Batu- susun, karang- dan goa-goa, tapak-kaki silam:
Apakah Bogor pada mulanya adalah samudra lautan?
12
Sedangkan jiwa Kota kita, Saudaraku!
Apakah kau sesekali pernah melihat jauh ke dalam wilayah kalbu?
Ada fenomena cinta bersemayam di situ: nyanyian-nyanyian alam
dalam kontra-bas celempung, gema elektromagnetik karinding,
dan alunan-ritmis tarawangsa, kecapi, angklung:
Berkumpullah mereka dalam jiwa Kota kita,
sedangkan raga Kota kita tengah porak-poranda!
13
Maka, setiap malam di kasepuhan Cisalada
Bergema beragam doa menembus cakrawala
Bintang-bintang yang beratus-juta nama panggilannya
memantulkan gemerlap cahaya: perasaan luka atas makna,
pemikiran cinta dalam kata.
14
Aku bersaksi, Saudaraku!
Bogor bagiku bukan hanya ruang pengembaraan,
jauh sebelum itu melebihi batas waktu persembunyian:
kelahiran dan kematian.
15
Kita juga akan bersaksi bersama, Saudaraku!
Di antara bukit-bukit Halimun yang mengelilingi
desa-kecamatan kita, bersaksilah pada Kota kita.
Semua yang datang dan pergi atas nama lahir dan mati,
bersemayamlah jiwa Kota kita!
16
Kota yang tegar menghadapi kejadian
dalam muatan iman: Kota kita, Saudaraku!
Pura Parahiyangan adalah tempat sunyi para kembara
yang pernah merangkul pelbagai agama, ketika Hindu
dan Buddha membuka ruang pada Islam dan Kristen,
timbul-kembalilah kepercayaan lampau dari Kejawen
hingga Wiwitan, mereka duduk bersama, melantunkan doa
dan puja bersama-sama, walaupun dengan cara
dan kata-kata yang berbeda: bersatu-padulah ke Yang Esa,
Maha Segalanya, Zat Maha Cahaya.
17
Aku memasuki belantara Halimun
yang murni tanpa kata-kata
di serat- akarnya ada alunan nada
mengusik angin, menjadi nyanyian burung
menumbuhkan tunas-tunas baru: pohon kehidupan,
makna yang lama tenggelam.
: bukankah sampai sejauh ini, kita tak mengindahkan,
muatan makna apa yang dibawa sungai Cianten
dan Ciaruten yang bermuara di Cisadane?
18
Semestinya kita mengenal segala napas angin
yang bersemilir mengelilingi alam Kota kita, Saudaraku!
Ketika Megamendung menjadi kelabu,
ketika Tamansari yang dahulu asri,
ketika Gunung Sindur yang kehilangan pegunungannya,
napas angin menghembuskan alam Kota kita
sejak sejarah enggan mencatatnya:
Aku melihat Dramaga kehilangan
perahu-sampan-nelayan, sebab kita hanya senang
mengandalkan arsip ingatan yang seiring waktu
tenggelam bersama kematian.
19
“Kehidupan Kota-mu bermula dari akar,
menumbuhkan batang,
berkembanglah daun dan bunga”
-Ujar Filsuf-filsuf Barat dalam catatan usangnya
yang sangat perhatian pada Kota kita, Saudaraku:
Mereka yang tak punya batas-waktu lahir-mati di sini,
tak punya ikatan batin alam-luar dan semesta-kedalaman
kehidupan kita, mengapa mampu dan mau menyusuri
rumitnya fenomena makna Kota kita?
: Bermulanya cinta dan dendam Nenek Moyang,
bias dalam campur-aduk bahasa yang tak akan
mampu kita maknai bersama.
20
Jangan menyalahkan kenapa para leluhur kita
enggan mengarsipkan peristiwa dan kenangannya
Sebab pada waktu itu, laut masih misteri di-pikiran
gunung masih sunyi di-perasaan: Kota kita saudaraku!
Masih menjadi perhelatan panjang Dunia
bahkan kekuasan antar ideologi bangsa kita sendiri.
Eiiiii! Ketika peristiwa Supersemar, misalnya
apakah kita pernah berpikir, bagaimana kondisi-situasi
Kota kita saat Bapak Republik menyerahkan kekuasannya?
Lebih jauh dari itu, ketika peristiwa pembangunan jalan Deandles
sedang apa masyarakat kecil di Kota kita?
21
Campur-aduk fenomena hidup mesti dirayakan
dengan senjata pertanyaan. Telusurilah luka atas jawabannya.
Mungkin, kita akan menemukan banyak sekali perjuangan
dari cinta, pengorbanan nasib dan dendam, jauh di kedalaman
peristiwa Kota kita, Saudaraku:
Kota kita bersama, Oyeeeah Bogor,
telah merekam banyak sekali perang-kematian,
damai-kelahiran-kehidupan -di sela pengembaraan panjangnya.
22
Kabupaten kita, Saudaraku, memiliki 40 Kecamatan
yang dihantam peristiwa berbeda-beda: ada pengangguran,
ada penggusuran, ada penindasan, dan ada penderitaan
Selain itu, kebahagiaan hanya angan-angan pikiran
menggerogoti rongga perasaan. Kota kita, Saudaraku,
hanya merangkul 6 kecamatan dihantam peristiwa yang sama:
raganya senang membangun, tapi jiwanya masih tertidur.
23
Oiii! Tak ada tempat untuk kita bersenang-senang
sebab kesenangan telah menjamur kesedihan
dan kesedihan membuahkan penderitaan, maka penderitaan
selalu menang melawan kebahagiaan. Itulah Kota kita
bersama, saudaraku:
Di Bubulak kita tak bisa mengelak dari luka
Di Baranangsiang kita tak bisa lepas dari derita
Dan di Tanahsareal kita juga tak bisa pergi
dari dendam yang membara
24
Lupakan sejenak tentang talas yang berjejeran
di pusat oleh-oleh itu, saudaraku
sebab kita terlalu senang mengenyam pariwisata
dibanding mempelajari bagaimana muasal proses
alam-pertanian dan semesta-pangan:
apalagi hubungan padi dan sedekah bumi
yang sering dirayakan kasepuhan-kasepuhan
di pelosok desa. Mengenal lebih jauhkah kita kepada proses itu?
: O, Mantra-mantra bernyanyi, mendobrak kata-kata hari ini, mengunci irama lampau, membuahkan makna yang tak kita kenal sebelumnya.
25
Mari kita lihat bersama: kenapa sungai di hulu
semula bersih dan di hilir mulai keruh, ulah siapakah itu,
saudaraku?
Mari kita kenang bersama: kapan terakhir kali kita
masih berenang di sungai-sungai itu?
Atau mari kita gali-diskusikan bersama:
apakah kita bisa menggunakan air bersih
yang berlimpah di sungai itu? Ketika kecoa sungai
mulai mati keracunan, bagaimana dengan nasib ikan-ikan
sampah-sampah di desa mulai tak terbendung berserakan,
bagaimana dengan nasib di Kota-kota
26
Baiklah, kita tak bisa menyalahkan nasib Kota ini
Kita juga tak bisa memprotes Tuhan mengapa cerita
sebegini rumitnya. Bahkan kita tak diperkenankan merubah
alur kehidupan yang sudah tertata rapi dalam buku pementasan
dunia, saudaraku. Sebab kita hanya manusia:
manut saja pada yang Maha Kuasa. Eheuheu~
27
Alangkah baiknya mari kita bakar buku-buku
yang menulis rentetan peristiwa kiat-kiat revolusi dunia
jika kita sendiri masih tak mengenal siapa Ibu dan Bapak
dalam silsilah Kota kita:
Kita bunuh saja dalam ingatan lalu rumitkan bersama
fenomena-peristiwanya: ya, tak ada Sri Baduga Maharaja,
atau Sangkuriang, apalagi Kabayan, atau nama-nama gaib
dalam kelamnya budaya-sejarah yang tak kita kenal makna keberadaannya.
28
Cukup, saudaraku! Kota kita telah melampaui rumitnya
Ibu Kota yang diceraikan suaminya.
Ibu Kota telah menjanda sekian lama, dan menelantarkan anak-anaknya:
Ya, salah-satunya Kota kita ini saudaraku. Kota kita dipaksa mengemis
di jalan peperangan dunia yang dipenuhi marabahaya:
Sebab gunung dan bukit-bukit kita telah diambil alih mereka
Negara-negara yang menganggap umurnya tua, dengan bahasa metaforanya-
ingin mengasuh dan membimbing anak kecil yatim-piatu.
29
Sekecil itukah umur Kota kita, saudaraku
Bukankah kita dinaungi Negara tua yang bernama Nusantara?
Yang di-andai-andai sebagai pewaris tahta Atlantis dan Negeri Saba?
Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah terjawab, saudaraku,
selalu dihembuskan angin darat dan angin laut, berlalu tak berlabuh,
menunggu pertemuan dua hutan.
30
Pada kitab-kitab lampau itu: masa kini adalah masa penyelesaian,
di mana peristiwa akan sampai pada kesimpulan makna dari kata-kata
yang pada mulanya tak terungkap: terbongkarlah semua,
termasuk makna Kota kita, Saudaraku:
Semula berhamburan bias perumpamaan,
berakhir dalam satu kunci jawaban.
31
Bogor hari ini adalah: aaaaaanyiiing!
Ia telah mendobrak rahasia dari kematian dan kehidupan
para pejalannya: merobek-robek batas jiwa dari desanya,
melukai raga dalam kotanya. Itulah sebabnya, di rumah
para pemangku agama, kemah pengembara telah usai:
semua mampu menjelma Tuhan.
32
Tuhan memang tak patut kita rebut-ributkan, Saudaraku
Ia sudah Maha dari segala Maha yang telah menentukan
nasib-takdir dari Kota kita: sebagaimana kelangkaan
bahan pangan yang terjadi di desa-desa hari ini,
dipantulkan oleh gerak-gaib-Nya melalui laku manusia
yang mulai mengabaikan sumber daya alamnya.
33
Bersama jalan panjang Kota kita, yang begini-begitu,
yang catatan sejarahnya tengah hilang di-pangkuan
anak-anaknya, aku akan terus menulis, walaupun tak sedetail
para filsuf terkemuka, tak seindah ritmis para pujangga:
karena dengan menulis, Kota kita akan terekam kejadiannya,
tersimpan peristiwanya, dan terbongkar fenomenanya—
Saudaraku:
Bogor telah menjelma bacaan yang tak lekang oleh waktu,
tak habis-habis maknanya, dan tak pernah lepas dari tubuh kita.
*berantai dan bersambung
Catatan Publikasi:
Puisi “Bogor Bagiku Bukan Hanya Ruang Pengembaraan, Jauh Sebelum itu Melebihi Batas Waktu Persembunyian: Kelahiran dan Kematian” pertama kali terbit di media Kolonian pada tahun 2022. Pada tahun 2023, dalam Kolonian Sastra Award, puisi Bogor Bagiku Bukan Hanya Ruang Pengembaraan, Jauh Sebelum itu Melebihi Batas Waktu Persembunyian: Kelahiran dan Kematian meraih penghargaan puisi terbaik yang dijuri-kuratori oleh Zen Hae, dengan catatan:
“Puisi panjang berjudul “Bogor Bagiku Bukan Hanya Ruang Pengembaraan, Jauh Sebelum itu Melebihi Batas Waktu Persembunyian: Kelahiran dan Kematian” adalah sebuah ode sekaligus elegi untuk Kota Bogor dan sekitarnya. Dalam 33 bait penyair mencoba mengungkapkan pemujaannya terhadap Bogor, kota yang penuh dimensi sejarah dan mitologi, nasibnya kini merasa di antara gerusan pembangunan. Tetapi, tetap berusaha mencintainya, mengajak pembaca mencintainya. Hampir seluruh kata-kata puisi ini lugas, tetapi penyair menyisakan ruang-ruang perenungan dalam puisi itu. Di saat itulah kita menemukan pemuliaan lagi metafora dan rumusan filsafat di dalamnya. Kata-kata di sini bukan hanya setajam pedang, tetapi selembut kuas kaligrafi yang darinya kita beroleh keindahan lukisan suasana dan renungan. Penyair berhasil menyeimbangkan hasrat untuk protes, tetapi di saat lain kita temukan suasana sublim.“

