…tak ada yang bisa menghalau rindu
yang telah lama bersemayam dalam kalbu.
walau mesti kugali-gali ruang dan waktu—
dan mesti tertimbun puing-puing masa lalu,
segala medan akan kuterjang—segala gelanggang
akan kutempuh: untuk menunaikan rindu itu…..
Dikisahkan kembali di Gunung Mandala Wangi, Prabu Anom yang ditemani si Lengser masih memburu rindu dalam pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya pada Resi Handeula Wangi. Apa-apa yang menjadi rahasia di pikiran dan perasaan Prabu Anom, kini mulai terbuka tabirnya.
“Eyang. Siapa awalnya yang menjadi raja di Kerajaan Sunda Pajajaran ini?” Tanya Prabu Anom.
Ketika Resi Handeula Wangi akan menjawab, tiba-tiba si Lengser bangun dari tidurnya dan memotong pembicaraan, “Hoaiii. Raden, yang awal mula menjadi raja tentu saja raja itu sendiri.”
“Diam kamu, Lengser. Jangan mengganggu. Lanjutkan saja tidurmu itu.”
“hayhayhay, sebentar Raden. Biar saya beritahu…..”
“Cukup sudah, Lengser. Biar aku yang menjawab.” Sergah Resi Handeula Wangi.
“Raden. Sebetulnya sudah tak ada yang mengingatnya lagi mengenai siapa nama detail raja yang menjadi muasal raja di Nagara Sunda Pajajaran ini. Namun, setidaknya nama itu sering disebut-sebut sebagai Purwa Aji.”
“Memangnya sudah tak bisa ditelusuri lagi, Eyang, di gudang pengetahuan Pamunjungan itu?”
“Sudah terlalu berjarak dengan keberadaanya, Raden. Sebab, ia sudah damai berada di Mandala Samar, mustahil untuk kita menemuinya. Selain itu, tempatnya sulit dijangkau. Tapi yang pasti, nama Purwa Aji itu bukan Purwa sebagai nama, melainkan Purwa sebagai awal-mula.”
“Baiklah. Tapi aku masih tak mengerti, apa yang membuat kita berjarak dengan Mandala Samar, Eyang?”
“Tadi sudah Eyang katakan, Raden, tempatnya sudah tak bisa diterka waktu, sulit ditempuh zaman, dan mustahil kita susul. Sebab, Mandala Samar adalah tempat para dewa bersemayam. Jika dihitung oleh zaman, mungkin kita berjarak dua belas zaman. Ditambah, Raden, jarak Mandala satu ke Mandala lainnya juga tak sama. Secara umum, tahapan Mandala itu, begini: pertama yang paling bawah adalah Mandala Kasungka. Kedua, Mandala Parnana. Ketiga, Mandala Karna. Keempat, Mandala Rasa. Kelima, Mandala Seba. Keenam, Mandala Suda. Ketujuh, Mandala Jati, di Mandala inilah leluhur kita yang suci karena kebaikannya di dunia bersemayam. Dan terakhir, Mandala Samar, di situlah Purwa Aji bersemayam bersama para leluhur lainnya yang sudah tunai atas segala hal tentang dunia ini.”
“Termasuk Sanghyang Wenang dan Sanghyang Wening? Apakah itu berarti raja-raja yang telah berpindah alam itu semuanya bertempat di Mandala Samar, Eyang?”
“Ya, tentu saja Sanghyang Wenang dan Sanghyang Wening juga di sana. Tidak, Raden, tak semua raja-raja dianugerahi Mandala Samar. Hal itu tentu saja harus sesuai dengan apa yang raja itu lakukan semasa melakoni dunia tengah ini. Jika apa yang dilakukannya tak sesuai apa yang menjadi laku raja, atau laku manusia paripurna, tentu ia tak akan bisa masuk ke Mandala Samar. Dan, Raden, yang mesti diketahui di Mandala Samar itu, tepat di atasnya ada tiga pendopo yang sejajar: di tengah, tempat Sanghyang Guru Tunggal atau sering juga disebut Sanghyang Guriang Tunggal. Di kanannya, tempat Sanghyang Wenang. Sedangkan yang di kiri, tempat Sanghyang Wening. Di bawah ketiga tempat dewa itu, ada pula tempat Sanghyang Kala—dewanya para Batara-Batari. Jika kita hitung, mungkin jaraknya kurang-lebih dua puluh sembilan zaman di dalam hidup manusia, itulah yang disebut Mandala Agung.”
Ketika Prabu Anom hendak bertanya ulang, tak lama Resi Handeula Wangi melanjutkan, “Secara hierarki, Raden, Mandala Kasungka adalah tempat bersemayamnya kebanyakan sukma-jiwa yang baru saja meninggalkan dunia tengah, tempat di mana semua hal ditimbang-diperiksa, baik atau buruk semasa hidup di dunia. Tapi, tak semua manusia ditimbang di Mandala Kasungka, hanya manusia-manusia yang terpilih, paling tidak kebaikan dan keburukannya seimbang. Kalau keburukannya lebih berat, tentu manusia itu ketika hendak masuk Mandala Kasungka sudah lebur terlebih-dahulu jiwanya kepanasan. Sukma-sukma itu biasanya lebih berat dosanya karena sirik, licik, dan munafik.”
Sekali lagi, ketika Prabu Anom akan mengajukan pertanyaan, Resi Handeula Wangi melanjutkan, “Begitu, Raden. Sisanya biarkan si Lengser saja yang menjelaskan semuanya. Raden harus tahu, bahwa si Lengser itu Gudang pengetahuan, lumbung ilmu, tapi memang begitu rupanya butut dan selalu menutup-nutupi. Kebetulan Eyang ada di sini, maka Eyang menyarankan agar Raden terus menagih ilmu pengetahuan pada si Lengser. Karena di waktu mendatang, Raden akan menjadi raja menggantikan rama prabu, dan Raden akan memakai nama S i l i w a n g i, nama ini Eyang bawa dari Kayangan. Bukan silih wangi, apalagi sirih wangi! Dengan nama itu, Raden akan bertahap mengunjungi Mandala ke Mandala—dan akan sampai ke Mandala Samar. Jika dihitung dengan hitungan manusia, lamanya kurang lebih 55 tahun di satu alam di satu jagat, lalu 400 tahun di satu jagat di dua alam, dan 25 tahun di dua jagat dan dua alam. Itulah peristiwa di mana datang waktunya Keraton di Kota Pakuan Pajajaran yang harum namanya dan banyak kisahnya mulai dibicarakan orang-orang wetan.”
Setelah Resi Handeula Wangi berbicara seperti itu, di Pamunjungan, di Gunung Mandala Wangi, suasana seketika mendadak sunyi. Resi Handeula Wangi bergumam tiga kali. Suaranya menggema di pusat sunyi. Gumamnya tak lama samar-samar terdengar. Suara-suara lain menyusul. Suara-suara bisikan.
“Dari semua masa kejayaan, nanti akan tiba juga waktunya negara ini semakin porak-poranda. Gunung-gunung banyak digunduli. Hutan-hutan banyak dibabat. Banyak aturan yang menyengsarakan rakyat. Jauh sesudah itu, sisanya tanyakan pada si Lengser. Tapi nanti jika waktunya tiba, Eyang akan ada di sini lagi, di Talaga Warna, sebelum Raden tiba di Mandala Samar.”
Resi Handeula Wangi tiba-tiba tak lagi terlihat, dalam sekejap menghilang begitu saja. Kini yang ada di hadapan Prabu Anom dan si Lengser seperti pada mulanya, hanya terlihat batu tiga yang berundak tujuh. Suasana benar-benar sepi. Karena hanya sepi yang mampu membuka pintu rindu yang jaraknya tak bertepi.
*****
Sekarang dengarkan! Kisah ini jangan terlalu lama ditunda. Bukan karena pamali, tapi karena Prabu Anom sudah tak sabar melanjutkan ceritanya. Semakin dalam rindunya, semakin menggunung rasa penasarannya.
“Eeeh, kenapa itu Eyang malah pergi begitu saja. Belum tuntas saya menanyakan semua hal.” Gerutu Prabu Anom.
“Tak tahu, Raden. Dari dulu ia seperti itu. Kayaknya ia takut jika saya tanyakan tentang mengapa di masa depan banyak para penguasa yang bajingan, bebenguk ngarauk siku nyengsarakeun rahayat.” Jawab Lengser sambil menguap.
“Bagaimana ini, Lengser. Bagaimana kelanjutan cerita dari Eyang itu?”
“Ya begitulah, Raden. Tergantung yang bikin cerita. Sebab, cerita kita, kisah kita semua ini, adalah lalakon Pantun Pajajaran, lalakon Sunda yang mencari arah jalan pulang. Bahkan Raden, di waktu mendatang kelak akan banyak lalakon yang menceritakan kita, mereka-reka ulang kisah kita, saking banyaknya yang ingin menjadi pujangga, mereka-reka ramalan atas kemauannya sendiri tanpa pertimbangan sejarah. Tapi tenang, Raden, jika itu terjadi biarkan saja, sebab kelak di Gunung Gorowong akan turun Panjak Ronggeng yang akan membuka kedok mereka, membuka segala keborokan juru cerita yang bertopeng.”
Si Lengser tiba-tiba terdiam. Tak lama ia menarik napas panjang dan melanjutkan bicaranya, “Walau saya senang heureuy, Raden, tetapi soal lalakon yang benar, tentu saja adalah yang ditulis di atas cakrawala, yang ditempa di bawah samudera. Bukan karena Pujangga yang bercerita, bukan karena Ratu yang melantun, bukan karena dibicarakan oleh yang kaya dan berpangkat, tetapi karena kebenaran harus tentu atas kebenaran. Kadang kita tak bisa membedakan mana benerna, bebener, dan kabener, hal itu langka untuk dipahami. Mereka selalu fokus pada penampilan, seperti ketika orang-orang melihat seorang yang iket butut, baju rambeng, samping belel: akan berbeda melihat seorang yang berdasi, bertopi, bercelana dan berbaju sutra!”
“Lengser! Mengapa dahulu negara ini dinamai Puejajaran, sekarang jadi Pajajaran?”
“Begini ceritanya, Raden. Dahulu, ada satu kerajaan yang memusuhi kerajaan Sunda. Selain memusuhi mereka juga melakukan penyerangan, dan terjadilah perang. Kerajaan Sunda yang diserang itu sulit ditaklukkan, karena pasukannya ditebas tak luka, ditombak tak tembus, dibom tak mempan. Musuh itu tak lama menanyakan pada leluhurnya mengapa itu bisa terjadi. Akhirnya mereka itu diberitahu bahwa Sunda tak boleh dimusuhi, sebab mereka itu masih saudara, walau bukan seibu dan sebapak. Setelah itulah mereka seperti menjajarkan negaranya dengan negara kita, dengan menyebut Peujeuh jajaran. Karena kesulitan untuk dilafalkan, akhirnya lama-lama menjadi Pajajaran.”
“Mengapa dahulu terjadi perang? Apa sebabnya mereka menjadikan Sunda musuh?”
“Karena mereka sirik dengan nama Sunda, Raden. Sebab, Sunda itu artinya peta yang menyempurnakan. Negara Sunda itu sama seperti petunjuk jalan dalam mengembarai dunia. Tanpa Negara Sunda, tak akan sempurna dunia ini.”
“Apa sebab adanya Negara Sunda ini? Mengapa harus berkaitan dengan Sanghyang Dewa Kala?”
“Begini, Raden. Dahulu dari dahulu yang paling terdahulu. Wilayah kita ini sangat gelap dan amat sangat dingin. Ketika Sanghyang Dewa Kala sedang mengembarai tugasnya, di wilayah ini selalu saja ia terpeleset, bahkan tidagor. Selain karena tidagor, ia juga mendengar di wilayah kita ini ada Tukang Mantun. Dari peristiwa itu Sanghyang Dewa Kala ke Panggung Pangruhuman, tepat ketika para dewa sedang berkumpul. Sanghyang Dewa Kala lalu mengadu pada Sanghyang Wenang dan Sanghyang Wening.
Dalam batinnya Sanghyang Dewa Kala bergurau, “Dewa Guriang Tunggal torek, Dewa Wening ngacay melulu, Dewa Wenang tak bisa menahan diri kalau melihat Surabaha dua padempetan.” Namun, ajaibnya gurauanya itu tak terdengar oleh ketiga dewa yang ada di Panggung Pangruhuman.
“Eyang-eyang sekalian, di dunia tanpa cahaya ada Tukang Mantun. Karena gelap dan saya kesulitan mencarinya, bukankah sebaiknya di wilayah itu kita terangi?” Sambut Sanghyang Dewa Kala.
Atas permintaan Sanghyang Dewa Kala, para petinggi dewa; Sanghyang Guriang Tunggal, Wenang dan Wening akhirnya turun ke dunia yang gelap itu, yang kelak jadi Negara Sunda. Ketika mereka sudah sampai di wilayah calon Negara Sunda, mereka menunggu, mencari-cari suara, namun sama sekali tak terlihat siapa-siapa dan tak ada suara apa-apa.
“Lihat, Eyang-eyang. Tak terlihat apa-apa kan? Sudah saya bilang, wilayah ini harus sesegera diterangi.” Kata Sanghyang Dewa Kala.
“Benar,” sambut Sanghyang Wening, “Ayo kita terangi wilayah ini.”
“Tapi mana suara Tukang Mantun itu, Kala?” Tanya Sanghyang Guriang Tunggal.
“Tunggu saja, Eyang. Nanti pasti terdengar. Kalau tak salah bunyinya begini: Dongkleung dengdek, turun curuluk!”
Namun, masih saja tak terdengar suara si Tukang Mantun. Malahan yang terdengar hanya suara kodok, suara tonggeret, suara macan, suara badak.
“Bagaimana, Lengser, apakah Tukang Mantunnya ketemu?” Potong Prabu Anom.
“Ya, tak ketemulah, Raden. Waktu zaman itu belum ada juru pantun.”
“Lah, gimana ceritanya, katanya tadi Dewa Kala mendengarnya.”
“Itu hanya akal-akalan Dewa Kala, Raden, agar wilayah ini terang dan ia tak terpeleset dan tidagor lagi, hahaha.”
“Berarti setelah itu wilayah ini langsung diterangi para dewa?”
“Tidak, Raden. Prosesnya cukup panjang. Mereka, para dewa itu lalu membuat jalan agar cahaya matahari bisa sampai ke wilayah ini. Raden harus tahu, prosesnya itu seribu tahun lamanya. Nah, setelah terang dan kini menjadi wilayah kita, maka tak heran para dewa itu bisa melihat apa-apa yang terjadi di sini, tentang segala hal: seperti rupa-rupa emas kuning, putih, hitam—termasuk sumber daya alam panganan yang melimpah, seperti buah kecapi, palandingan, beunying, cecendet. Kesukaan para raja seperti, peuteuy, jengkol, kalahang, sapi, picung, pare, kulutuk, pokoknya banyak sekali. Raden mungkin tak akan percaya, dahulu di sini ikan kancra sebesar bambu bitung, berod dan belut sebesar bambu tali.”
“Oya, Lengser.”
“Eeeh, sebentar, jangan dulu memotong, Raden,” sergah Lengser. “Lebih dari hal itu, nama Sunda tak hanya tentang itu, Raden. Alam di wilayah ini seperti ditakdirkan untuk mengajak orang bertapa, mendekatkan diri pada sukma, mencari suatu rasa tentang apa-apa yang berkaitan dengan kehidupan dan kematian. Itulah mengapa wilayah ini disebut oleh Sanghyang Wenang sebagai Buana Sunda: tempat menyundakan diri di luar alam dan di dalam alam, bersatu-padulah ke semesta seluruh jagat. Masih ada lagi, Raden, sabar sebentar, karena ini poin intinya. Itulah mengapa, ketika menjadi raja harus mengerti tentang: Mengapa manuk cuhcur ngecruk teh ngan di wayah peuting, jeung toggeret beuki rame bae di wayah powe maju ka burit; lalu tentang endog, nyaho nu mana nu jadi kotok; beureum atawa bodas. Karena kelak, akan datang waktunya manusia Sunda memusnahkan manusia Sunda itu sendiri.”
“Ya ya ya, baik kalau begitu. Saya penasaran, Lengser, bagaimana kelanjutan kisah para hewan yang menjadi manusia itu, yang menjadi cikal-bakal wilayah Sunda ini.”
“Cukup panjang kisahnya, Raden.” Si Lengser celingak-celinguk, menarik napas, bergumam, dan tak lama melanjutkan, “Pertama, *Ki Badak dalam pengembaraannya terus menuju ke arah barat, mendekatkan dengan pesisir selatan. Lalu ia menyeberang ke muara sungai Cibinuwangeun, terus ke barat mencari tempat ternyaman, kelak melahirkan banyak Pandita yang termasyhur, sakti mandraguna: Kai Ujung Kulon, leluhur yang kelak ada di Rumpin. Kedua, *Ki Belang menempuh ke timur dan membuka wilayah di pegunungan yang bernama Gunung Galunggung, tapi sebelumnya bernama Gunung Galunggang. Di sana ia tinggal dengan nyaman, melupakan wilayah asalnya di Gunung Bundeur. Keturunannya nanti banyak yang menjadi Menak yang haus akan takhta dan lapar atas kekuasaan.”
“Bagaimana dengan Ki Ciung?” Sambut Prabu Anom.
“Ya, ketiga ini *Ki Ciung. Ia menempuh jalan dan menyeberangi sungai Ciliwung dan terus menyusurinya sampai ke hilir, yang nanti kelak bernama Pelabuhan Kalapa. Setelah itu ia menyeberangi laut, berkenala dari negara ke negara, ia melupakan tanah kelahirannya, sebab di salah satu negara, oleh sang raja yang memiliki buntut di kepalanya, ia dijadikan menantu. Kelak, keturunannya akan banyak datang ke wilayah ini, yang menyebabkan dua persoalan yang mesti dihadapi manusia Sunda: bangun sebelum musnah, atau musnah sebelum bangun.”
“Eh, apa maksudnya manusia Sunda harus bangun sebelum musnah atau musnah sebelum bangun?”
“Penyebab musnah manusia Sunda, karena terlalu terbuka pada manusia-manusia luar, mereka lupa bahwa kosmopolitan yang diwarisi leluhurnya punya batasan-batasan dan nilai-nilaitertentu. Maka, dalam bahasa metaforanya, kelak akan datang banyak monyet dari timur yang mengganti lantunan mantra-mantra padi, mengganti cara laku-lampah dalam memandang alam kehidupan ini.”
“Lalu bagaimana dengan Ki Lutung, Lengser?”
“*Ki Lutung sibuk mengkaji bagaimana persoalan raja dengan telur: raja harus berpihak pada negara atau rakyatnya, sama seperti telur, yang didahului ayam apa telurnya, yang kuning atau yang putihnya. Ki Lutung kini sampai pada pemahaman, bahwa raja harus berpihak pada keduanya, ia harus adil sejak dalam keadilannya. Sebab yang terpenting, tak ada isi telur tanpa cangkangnya. Cangkang itulah keseimbangan dalam berpikir dan merasai yang harus dimiliki seorang raja.”
“Setelah mengurusi itu, ke mana lagi Ki Lutung?”
“Ki Lutung lalu membuka wilayah yang kini bernama Cipamingkis, dan mendirikan kota di wilayah hilir bernama Kuta Tambageu, di Gunung Hambalang. Kota itu kelak hilang-lenyap, karena Ki Wangsa Damba menculik Nyai Putri Arum Sugara dan porak-porandalah wilayah itu”
“Bagaimana ceritanya, mengapa bisa hilang-lenyap kotanya?”
“Eitsss, sabar Raden. Kelanjutan kisahnya akan saya lanjutkan. Tapi sekarang kita mesti kembali ke kota Pakuan. Sebab, kita sudah terlalu lama berdiam di Pamunjungan Mandala Wangi ini.”
Prabu Anom dan si Lengser lalu bergegas turun dari Pamunjungan, Gunung Mandala Wangi. Mereka berjalan menurun, diselimuti kabut yang juga turun ke lembah-lembah Mandala Wangi, suasana begitu dingin. Suara-suara bersahutan: suara burung elang, suara bajing, suara lutung, suara macan tutul, dan suara-suara yang muncul dari masa silam. Mereka terus berjalan: di antara pohon-pohon purba, di antara semilir-hembusan makna.
*bersambung

