Sisa-sisa Keyakinan yang Belum Habis Dibakar Waktu: Catatan Pinggir dari Diskusi “Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan”

Sisa-sisa Keyakinan yang Belum Habis Dibakar Waktu: Catatan Pinggir dari Diskusi “Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan”

Minggu sore, 5 April 2026, angin datang lebih dulu daripada orang-orang. Ia berputar di halaman Dieu Geura. Menggesek daun. Menyusup ke celah-celah yang tak tertata, seolah bertanya, hari ini, apa api benar-benar akan menyala? 

Tema diskusi terdengar seperti judul dari zine fotokopian. Ringkas. Dingin. Nyaris seperti kalimat yang diucap Aan Mansyur dengan tanpa nada: Setiap api, butuh sedikit bantuan.Tapi kita tahu, dari sejarah mana pun, api ngga pernah benar-benar netral. Ia selalu punya konsekuensi, menghangatkan, sekaligus berpotensi membarakan apa yang ia pegang.

Di diskusi ini, saya datang terlambat. Gimana ngga, kombinasi hari minggu, tanggal muda dan long weekend, jelas ngebikin jalanan kabupaten ke kota seperti kerak neraka—sanap, sesak, nyaris stuck. Sementara di saat yang sama, di ruang terbuka Dieu Geura, ada sesuatu yang justru sedang dimulai: kerumunan. 

Dan di Rogob, kerumunan buat diskusi adalah peristiwa yang nyaris anomali. Sepuluh orang aja biasanya udah kerasa kek kemenangan kecil. Tapi di sore itu, jumlah rata-rata itu terlewati begitu saja.

Ada yang bilang ini karena Herry Sutresna—atau Babap, begitu saya akan memanggilnya. Panggilan yang menunjukkan setengah hormat. Setengah akrab. 

Babap jelas adalah magnet kultural yang ngga perlu diumumin dua kali. Namanya yang beredar di flayer acara terasa seperti kabar baik yang jarang terjadi. Wajar jika orang-orang datang. Dan itu bukan semata karena sosoknya hari itu, tapi karena jejak panjang yang ia tinggalkan. Rebel, liar dan masih terus nyangkut. Mulai dari Homicide, Morgue Vanguard sampe Bars of Death.

Tapi mungkin juga bukan cuman itu. Bisa jadi, yang datang kepengen liat seseorang yang selama ini lebih sering hidup di playlist ketimbang di depan mata mereka. 

Residu-residu itu akhirnya bertemu dalam satu ruang.

Diskusi dimulai tanpa seremoni berlebihan. Seperti api kecil yang ngga butuh panggung besar. Hanya butuh cukup oksigen. Dan karena bukan acara besar, sepanjang diskusi sampe ke pertanyaan-pertanyaan yang datang hampir semua bisa diringkus dalam satu perasaan: kerapuhan.

Kerapuhan personal muncul dalam cerita-cerita yang disampaein tanpa banyak filter. Tentang kelelahan. Tentang ketakutan. Tentang kebingungan ngadepin hidup yang semakin sulit diprediksi. Di saat yang sama, kerapuhan komunal terasa bak latar yang ngga pernah benar-benar selesai. Dari situasi sosial yang penuh ketegangan. Ketidakpastian ekonomi. Dan kekerasan yang seolah menjadi bagian dari ritme harian.

Di situasi begini, kerapuhan bukan lagi aib. Ia justru jadi kondisi dasar. Sesuatu yang ngga harus lagi disembunyiin. Dan justru itu yang akhirnya menjadi bahasa bersama.

Apa yang terjadi di titik ini, ngingetin saya pada cara Jean-Luc Nancy ngeliat keberadaan manusia. Dalam Being Singular Plural, ia percaya bahwa eksistensi manusia ngga pernah benar-benar sendiri. Ia selalu terkait dengan keberadaan orang lain. Dengan relasi. Dengan kebersamaan yang ngga selalu dipilih. Tapi gabisa dihindarin. Kerapuhan lalu bekerja sebagai titik temu. Sesuatu yang nge-connect-in individu satu dengan yang lain. Bahkan sebelum mereka consent buat saling memahami.

Dan mungkin, itu yang terjadi sore itu di diskusi yang diadain Minortive. Orang-orang datang bukan buat keliat kuat. Tapi buat ngakuin kalo mereka rapuh dan itu normal. 

Bertahanlah sedikit lebih lama.

Lalu kalimat itu, yang bagi saya paling radikal dari sepenggal lirik lagu, tiba-tiba menggenang di kepala saya. Kalimat yang datangnya tanpa aba-aba, kek suatu yang udah lama ada, tapi baru nemuin momennya.

Di tempat, dan waktu yang berbeda, (mungkin) kalimat itu akan terdengar biasa. Bahkan klise. Tapi di saat itu, ia bekerja dengan cara yang lain. Ngga kerasa kek nasehat. Lebih kaya dorongan yang pelan tapi menetap.

Dan bertahan dalam hal ini, ngga lagi terdengar pasif dan memang gaseharusnya pasif. Ia bergerak. Nuntut tenaga. Nguras keberanian. Kadang bahkan butuh sedikit kenekatan.

Dalam bayangan Marxisme, bertahan bisa dibaca sebagai cara paling sederhana buat ngga sepenuhnya tunduk. Sistem boleh menggilas. Tapi selalu ada sisa yang nolak mampus. Sisa itu kadang kecil. Kadang nyaris ngga kelihat. Tapi cukup buat ngebikin roda kapitalisma ngga bergerak serempak.

Saya jadi ingin bertanya, bagaimana seseorang bisa tetap menghidupi keyakinannya sejauh itu?

Saya melihat Babap di sana, dan tiba-tiba merasa ada sesuatu yang agak ngeganggu keyakinan lama. Keyakinan bahwa usia bakal ngelunakin segala. Bahwa idealisme hanya milik anak muda. Bahwa semakin tua, kita bakal semakin kompromistis. Semakin realistis. Semakin jauh dari api yang dulu kita jaga dengan sepenuh daya.

Tapi di hadapan saya, mitos itu retak.

Babap berdiri sebagai semacam anomali kecil—atau mungkin justru pengingat—bahwa ideologi ngga selalu tunduk pada uban-uban yang tumbuh banyak di kepala. Bahwa ada orang-orang yang tetep ngejaga dan melihara keyakinannya seperti memelihara luka. Dirawat. Dijaga. Kadang perih. Tapi dengan segala keyakinan yang dipunya, ia dibiarin terus ngendap dalam setiap gerak. Dan itu dilakuinnya, bukan sebagai romantisme masa lalu. Tapi sebagai praktik hidup sehari-hari.

Dalam semangat Anarkisme, keyakinan—yang saya istilahkan sebagai eskatologi iman—sering ngga punya jaminan apa-apa. Ngga ada janji kemenangan. Ngga ada kepastian kalo dunia bakal berubah sesuai harapan. Yang ada hanya keputusan untuk tetap percaya, kalo another world is possible.

Barangkali itu yang ngebuat diskusi kayak gini kerasa penting. Sebab ia ngga nawarin solusi cepat layaknya iklan-iklan pinjol. Ngga juga ngejual optimisme murahan kek partai-partai. Ia lebih mirip tempat singgah orang-orang datang. Ngebawa capeknya masing-masing dan bergantian. Lalu sadar kalo mereka ngga sendirian.

Api kecil itu emang butuh bantuan.

Setengah diskusi berjalan hujan turun. Ngga dramatis. Ngga juga pelan. Maklum kota hujan. Dan di saat hujan menderai, di situlah judul diskusi tiba-tiba jadi konkret. 

Orang-orang bergerak. Tanpa komando. Sofa diangkat. Mic dan sound diamanin. Peralatan dipindah. Diskusi yang tadinya terbuka perlahan masuk ke dalam. Orang-orang di dalam ruangan juga memberi bantuan. Mereka bergeser. Memberi ruang. Ngga ada yang kerasa terganggu. Ngga ada juga yang ngerasa ini bukan urusannya.

Dan apa yang sedang terjadi bukan sekadar adaptasi terhadap cuaca. Ia adalah praktik kecil dari solidaritas. Nancy mungkin bakal nyebut momen ini sebagai momen being-in-common. Marx mungkin bakal ngelihat ini sebagai kerja kolektif yang spontan. Sementara Proudhon bakal tersenyum kecil, dan bilang: beginilah seharusnya dunia bekerja. Tanpa perlu diperintah siapa-siapa.

Diskusi berlanjut. Lebih rapat. Lebih hangat. Di luar, hujan masih jatuh. Di dalam, api tetap menyala. Bukan karena ia kuat. Tapi karena ia dijaga. Dan mungkin, pada akhirnya, itu saja yang kita punya. Api kecil. Kerapuhan yang kita bagi. Dan orang-orang yang, entah bagaimana, mutusin buat tetap ada. Sedikit lebih lama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *