Penampilan Rumah Tumbuh Muthmainah (selanjutnya Rutum) tetap tampak biasa saja. Tak ada yang menonjol dan menarik sebagai kontrakan pada umumnya. Halaman kecil yang tak muat bila dimasuki mobil itu dikelilingi berbagai tanaman rambat hias seperti Morning Glory, Bougenville, Wijaya Kusuma, Mandevilla dan Melati Belanda. Demikian kesan beberapa orang yang pernah singgah untuk istirah sejenak, bercengkrama dan bersilaturahmi.
Sudah jalan empat tahun kami “menghidupi” dan “mendayagunakan ruang” dua pintu kontrakan sepetak-petak ini. Kami hidup bertetangga sewajarnya warga biasa-biasa saja. Malahan kami amat sangat bersyukur dikelilingi para tetangga yang punk rock and care. Penerimaan para tetangga itulah yang membuat kami kerasan—seolah-olah tak mau pindah—berproses sebagai pembelajar kehidupan yang senantiasa bersetia pada daya hidup dan tangguh tahan dalam mengolah perjuangan nilai-nilai sampai ngelmu kelakone benar-benar mewujud kanthi laku yang seharusnya kami lakukan.
Hingga di sebuah percakapan mengenai identitas, seorang tetangga kami yang bekerja sebagai crew film pernah bertanya iseng: “Kalian ini sebetulnya perkumpulan orang-orang apasih? Bergerak di bidang apa?” Senang rasanya mendengar pertanyaan ini. Lega karena selama kami tinggal di sini ternyata belum pernah teridentifikasi dalam kesempitan suatu predikat tertentu, kecuali sebagai warga biasa—yang tidak jelas asal-usul penghidupan dan pekerjaannya.
Sekedar menjawab rasa ingin tahunya itu, saya mengatakan bahwa para penghuni Rutum ini satu spesies seniman yang main-main dengan tidak pernah tidak sungguh-sungguh dalam menjalankan tugas kreativitas kesenian maupun kebudayaan. Meskipun kami semua tidak punya potongan khas bergaya model John tralalala. Kami lebih mirip kumpulan “mas-mas” biasa.
Sejak awal tinggal di Rutum, tidak pernah sedikitpun kami berharap agar dilirik sebagai seniman di mata para tetangga. Sebab kami sudah lebih dulu siap untuk tidak diakui siapa-siapa. Dan harus siap untuk tidak dipahami oleh banyak orang. Kami tidak perlu nafsu untuk diketahui, tidak perlu pamrih untuk dipuji orang lain. Di sini kami berproses hidup sederhana saja dengan mengolah kebermanfaatan seluas-luasnya, tanpa perlu menagih jasa kami untuk dipertontonkan.
Alangkah gembira hati kami hidup bersama para tetangga yang saling menatap tanpa embel-embel jebakan dalam keterhimpitan, karena sejatinya manusia adalah keluasan-keutuhan-kedalaman. Kami tidak berebut tempat sebagai “manusia perabot” yang segala sesuatunya bersifat mengisi ruang, melainkan kami kejar pintu keluar untuk terus melatih diri menjadi “manusia ruang”. Manusia yang menampung sekian banyak hal. Manusia yang berlaku keranjang sepanjang hidup dalam kesadaran ruang. Manusia yang bergairah menjelajahi tubuh ruang, tubuh yang memperhatikan dan meneliti segala jenis “perabotan” di medan ruang, memilah perabot dan menggali pemahaman ruang agar kami senantiasa jembar dalam manjing ing kahanan yang segala sesuatunya dinilai berdasarkan anutan sistem pengkondisian tertentu.
Dengan berkesadaran ruang, kami terus mencoba detailkan mana saja yang hanya sekedar kontruksi wadak. Karena perabot itu bisa terlihat, sedangkan ruang tidak terlihat. Ruang itu spiritual.
Andaikan Rutum suatu kolektif, saya kira sudah lama bubar. Lagipula tak ada kepantasan sedikitpun pada Rutum untuk disebut sebagai kolektif. Rutum cuma tempat hidup bersama, bukan tempat mencapai suatu tujuan secara bersama-sama. Perjuangan Rutum tidak terbatas pada seberapa jauh tujuannya, melainkan seberapa tangguh tahan secara pribadi ataupun bersama-sama dalam menerapkan nilai perjuangan hidupnya. Kolektif tujuannya jelas, sedangkan Rutum ora nggenah (tidak jelas). Kolektif punya banyak pikiran, tetapi Rutum malah memberi isyarat merdeka untuk bebaskan-bebaskan saja. Kolektif pakai kematangan konsep, namun Rutum terkadang lebih percaya naluri. Hal-hal inilah yang membuat Rutum sama sekali tidak memenuhi syarat sebagai kolektif.
Dalam amatan yang tak bersih, sebagian kolektif telah mengalami suatu pergeseran ke arah perluasan maupun penyempitan tergantung cara berpikir tiap pribadi di dalamnya. Ada yang bergerak menuju visi secara bersama-sama. Ada yang bergerak sendiri menuju visi demi bersama-sama. Ada yang bergerak sendiri alih-alih kepentingan bersama padahal untuk kepentingan sendiri. Ada yang bersama tidak untuk bersama-sama, melainkan untuk yang mau bergerak saja. Ada banyak faktor dan variabel lainnya yang membuat kolektif lebih berwarna, atau lebih baik bubar saja karena terlampau membebani pikiran sampai timbul penyakit hati.
Rutum belum sedewasa kolektif. Kami baru belajar menumbuhkan ruang kerendahan hati di balik kebanggaan-kebanggaan semu. Kami baru sebatas menjelajahi kemungkinan-kemungkinan “perkosa ruang” (aktivasi ruang) sejauh itu mengandung kebermanfaatan, seminimal-minimalnya mungkin boleh dikata berdampak. Kami seluruh penghuni Rutum baru menggali pemaknaan yang “klop” atas urgensi pemahaman mengenai ruang. Atas dasar ini pulalah Rutum bisa kami rancang-bangun menjadi semacam art space buat mengisi workshop-workshop, seperti workshop daur ulang kertas, toko buku, studio musik sekaligus pertunjukan musik, latihan teater sekaligus pentas mini, kegiatan bedah buku, tempat ngopi, arena diskusi, liga playstation, perpustakaan baca, ngobrol ngalor-ngidul, tempat anak-anak kecil belajar mewarnai, jadi kelas pengetahuan umum, nobar bola ataupun film, dan masih banyak lainnya lagi.
Di antara berbagai macam yang menyangkut hajat hidup Rutum itu, kami tidak pernah tidak izin kepada seluruh tetangga sebelum melangsungkan kegiatan. Para tetangga pun tidak pernah tidak memberi izin, lebih jelasnya tidak melarang kami untuk mengadakan acara kecil-kecilan. Para tetangga tampak sumringah kalau kami giat ini, giat itu. Bikin ini, bikin itu di Rutum. Mereka selalu memberi kami isyarat merdeka dalam berkarya. Mereka lebih dari sekedar tetangga, bagi kami, seperti keluarga raya yang saling mendoakan dan saling men-support. Dari sini kemudian timbul rasa aman, produknya ialah saling percaya dan saling menyelamatkan.
Keamanan ini kami ambil sebagai kewajiban lingkungan di mana kami tinggal dan tumbuh. Tiap kali kami begadang sembari membicarakan banyak hal atau sekedar bersenda gurau belaka, maka dengan otomatis pula kami bertugas menjaga lingkungan. Para tetangga lebih rileks untuk tidur nyenyak kalau mendengar kami adu omong bersilat tawa hingga semalam suntuk. Malahan mereka justru merasa khawatir kalau kami tidak kelihatan dan tidak kedengaran suaranya lagi begadang. “Kok tumben pada sepi, om?” Akhirnya, setiap malam di Rutum kami habiskan dengan kegembiraan hidup dan rasa syukur tak putus-putus.
Rutum sebagai ruang memang diniati untuk memperbanyak kemungkinan-kemungkinan di mana kami berani menjawab berbagai tantangan kehidupan. Di sini tiap pribadi mempunyai hak yang sama untuk berbicara, berpendapat, berdialektika, berdebat, bergumul, dan berdiskusi. Di sini satu-satunya aturan yang wajib disayangi ialah mematuhi kedaulatan dan rambu lalu lintas kesadaran masing-masing. Ingat baik satu kata yang menuntun ke Allah: jalan. Jadi apapun saja asalkan itu berasal dari sesuatu yang mudah-mudahan “diperjalankan oleh Allah”, maka kami bersedia-ikhlas-ridho menempuh sekaligus menjalaninya dengan hati yang sungguh-sungguh.
10 April 2026

