…bintang-gemintang itu, Saudaraku,
bukan hiasan langit semata: ia adalah
puncak dari fenomena tanda
yang membuka tabir hidup manusia
pengingat atas luasnya alam semesta
dan petunjuk bagi segala makna…..
Jangan diganggu! Biarkan Prabu Anom, si Lengser, dan Resi Handeula Wangi merenungkan kembali kisah berdirinya Pakuan Pajajaran, memaknai apa yang terjadi di masa silam dan merangkai kemungkinan apa yang akan terjadi di masa depan.
*****
Sekarang dengarkan! Mari kita pindah ke Kayangan. Sanghyang Guriang Tunggal sedang mendirikan panggung agung untuk tempat bersemayam di Mandala Agung. Dewa-Dewi semua sibuk bekerja, tanpa terkecuali.
Waktu itu, Lutung sedang memanggul haur (bambu) merah. Tak lama monyet hijau ingin terlihat lebih giat bekerja, sampai merebut haur di punggung Lutung yang sedang dia angkat. Haur di punggung Lutung itu tidak berhasil direbut Monyet hijau, namun nahasnya haur itu terjatuh dari Kayangan. Hal itu terlihat oleh Sanghyang Wenang dan Sanghyang Wening, dan mereka menghampiri Lutung dan Monyet Hijau itu. Sebab, jika haur jatuh ke bumi para manusia, dewa-dewi akan celaka: tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi, semuanya akan sial jika manusia melihat haur merah jatuh dari langit, apalagi jika haur itu sampai diambil: karena bisa menyehatkan sagara, menghentikan matahari, menurunkan bulan, dan bahkan memindahkan bintang.
Sanghyang Wenang dan Sanghyang Wening lalu turun ke arah haur yang jatuh. Ternyata benar saja haur itu jatuh di bumi manusia. Di puncak gunung Mahameru, sambil tergesa-gesa, Sanghyang Wenang dan Sanghyang Wening langsung memerintahkan kepada seluruh penghuni hutan-pegunungan untuk mencari haur yang jatuh dari Kayangan. Mereka juga meminta bantuan pada Badak yang sedang berendam di lumpur, pada Macan yang sedang berjemur, pada Lutung yang bergelantungan di pohon, pada Burung Ciung yang sedang terbang, sebab mereka akan dipekerjakan, dan imbalannya akan diubah wujudnya menjadi manusia.
Hal itu lalu terdengar oleh kura-kura putih di muara sungai (Ci Pontang dan Catang Tunggal). Kura-kura putih itu juga ingin dipekerjakan, bahkan ia ingin juga menjadi manusia. Akhirnya semua hewan yang diperintahkan maupun yang tidak bersama-sama mencari haur merah yang jatuh dari kayangan: si Badak menyusuri lembah-lembah, si Macan membuka jalur baru, dan burung Ciung memantau dari udara, si Lutung melompat dari pohon ke pohon, sedangkan Kura-kura putih mencari dari muara sungai ke muara sungai.
Ternyata, haur yang jatuh di Kayangan itu tepat terjatuh di sebuah gunung, sampai-sampai gunung itu semplak (hari ini disebut Gunung Sumbing). Hal itu terlihat oleh hewan-hewan di wilayah Timur, dan mereka sesegera mungkin menuju haur yang terjatuh di gunung yang semplak. Namun sialnya, ketika mereka semakin dekat dengan haur, lereng gunung itu longsor dan menimbun mereka. Akibat longsoran itu haurnya sampai terpotong dua: yang potongannya panjang melesat terbang ke atas, mengapung di udara, dan kembali lagi ke Kayangan. Sedangkan potongan yang pendek malah terjatuh di salah satu hutan, tak jauh dekat Kihara kembar: “handeuleum siyeum dipelak mapay.”
Memantau peristiwa itu, Sanghyang Wenang dan Sanghyang Wening lalu menyusul keberadaan haur yang jatuh. Tak lama, sebelum sampai di tempat terjatuhnya haur, mereka menjumpai semua hewan, dari wilayah timur maupun barat, dari wilayah utara maupun selatan, semua gaduh dan ricuh mencari dan akan berebut haur yang jatuh. Semua hewan-hewan itu ingin menjadi manusia.
“Kalian semua diam saja. Aku dan Catang yang akan menjadi manusia sekaligus akan menjadi raja di bumi ini. Bumi yang terbelah oleh dua lautan, yang memiliki berjuta-juta anak sungai di timur, barat, selatan, bahkan utara. Batas wilayahku dengan Catang adalah sisi sungai Cidurian. Sebab, di darat maupun di laut kita tak bisa selamanya hidup aman dan nyaman. Tanahku ini akan kunamai Bantar Sagara.” Kata Kura-kura putih dengan gaya orator ulung.
“Tanahku akan kunamai Jati Purwa. Sebab adanya di belahan timur. Siapapun nanti penerusku, yang melanggar dan melangkahi batas-batas yang telah ditentukan, ia akan celaka hidupnya, celaka keturunannya, dan celaka bangsanya.” Sambung Catang dengan penuh amarah membara.
Deklarasi dari keduanya itu nanti pada akhirnya menjadikan wilayah yang bernama Pajajaran Bantar Sagara dan Pajajaran Jati Purwa.
***
Di wilayah bumi—di ambang ruang dan waktu, Sanghyang Dewa Kala sedang mengembara dalam tugasnya. Ia heran mengapa di sebagian bumi terasa sepi, dan di sebagian bumi lainnya terasa riuh-ramai. Dengan rasa penasaran Sanghyang Dewa Kala turun menjumpai wilayah bumi yang riuh-ramai. Ia lalu memilih turun di satu gunung yang lerengnya terdapat danau purba yang jernih. Karena kurang (meleng) rasa kewaspadaannya, Sanghyang Dewa Kala tergelincir dan jatuh tepat di danau itu. Untungnya tak ada yang melihat kejadiannya, kalau ada hewan atau manusia yang melihatnya, tentu sebagai dewa ia akan sangat malu atas apa yang menimpanya. Gunung itu kini dinamai dengan (ragag keuna jambangan) Gunung Ragajambangan (Rogojembangan?).
Memulihkan rasa malu, Sanghyang Dewa Kala bergurau, “Bagaimana ini bermula! Darimana datangnya semua ini! Disebut manusia, tapi mengapa seperti kunyuk, seperti Lutung, seperti macan, seperti badak, dan seperti ciung. Disebut orang, tapi mereka semua itu edan. Bukankah belum waktunya semua manusia itu gila. Ini tak bisa dibiarkan, bisa-bisa dunia ini akan porak-poranda.”
Setelah itu Sanghyang Dewa kala merubah dirinya dan cosplay menjadi Sanghyang Wenang untuk melerai kericuhan masalah hewan-hewan yang juga ingin cosplay menjadi manusia. Tapi hal itu ternyata tak berjalan mulus. Karena yang menjelma manusia itu bukannya berhenti riuh-ramai dan bersujud menyembahnya, malahan acuh pergi meninggalkannya, meledek dan mempantatinya. Untung saja Dewa tak baperan, walau dihujat-dimaki, walau di depan mata atau di belakang mata, tetap saja Dewa tak mudah baperan: karena ia sudah terbiasa melihat semua kebaikan maupun keburukan yang dilakukan manusia.
Seperti manusia yang kepalanya berwarna merah, yang duduk di kursi kekuasaan dan menggorok hidup rakyatnya; seperti manusia yang kepalanya putih, yang mengadu-dombakan rakyat dengan rakyat.
“Tak salah lagi,” pikir Sanghyang Dewa Kala, “manusia-manusia sejenis ini adalah orang-orang yang suka membuat ramalan-ramalan palsu dan mewariskan kepada generasinya agar tersesat.” Sambil terheran-heran ia melanjutkan, “Manusia-manusia itulah yang sering mengganggu jalannya cerita, sering memotong-motong cerita, sering mengubah dan menambahkan peristiwa yang bukan kebenaran atas cerita aslinya.”
Sanghyang Dewa Kala merubah kembali dirinya seperti semula. Ia berdeham tiga kali, menarik napas panjang lima kali. Tak lama berkata dengan lantang dan penuh wibawa, “Sanghyang Wenang memang sudah janji. Tapi belum waktunya kalian menjadi manusia. Kalian semua harus kembali seperti semula! Yang semula monyet jadilah monyet; yang semula kura-kura jadilah kura-kura; yang semula anjing jadilah anjing, yang semula macan jadilah macan; yang semula badak jadilah badak, yang semula burung jadilah burung! Kalian semua kembali lagi ke wujud binatang!”
Semua manusia jelmaan hewan itu kembali ke bentuk semula menjadi hewan. Suasana semakin riuh-ramai, ada yang menjerit, ada yang saling membunuh, ada yang saling berlarian, dan lain sebagainya. Kura-kura putih yang juga sudah kembali ke wujud semula protes, “Katanya dewa itu adil, mengapa masalah keinginan kami ini dimasalahkan. Mengapa janji yang tak tahu kapan tuntasnya itu harus kami nantikan.”
“Dewa berlaku adil ada waktunya, Kuya. Dewa tidak berlaku adil juga ada waktunya! Dewa juga tentu punya batas dewawi-nya. Yahahaha. Dan terus terang aku minta maaf pada kalian semua. Mari kita serius. Kalian semua harus melaksanakan tugas untuk membuat Mandala Agung dengan meniru desain gunung, dengan tenggat-waktu 17 tahun, 8 bulan, dan 3 malam. Di malam yang ketiga itu, ketika tepat bulan purnama berada di tengah-tengah, tugas kalian membangun Mandala Agung harus selesai dengan tepat waktunya. Ketika itu selesai dengan tepat waktu, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, kejayaan kalian semua akan datang; seperti munculnya matahari di timur sampai ke barat.”
Setelah berkata seperti itu, Sanghyang Dewa Kala lalu pergi. Tidak terlihat oleh semua hewan ke arah mana ia pergi. Namun yang pasti ia akan pergi ke arah barat, melihat wilayah bumi yang tidak ramai—tidak juga sepi. Tetapi pada suatu masa pernah mengalami sepi yang melebihi sunyi, ketika hewan-hewan yang cosplay menjadi manusia itu membuat peninggalan, prasasti dan arca-arca. Badak yang tak senang bercerita, hanya bisa meninggalkan tapak kakinya di batu-batu; Macan yang tak pandai berkata-kata, hanya bisa meninggalkan goresan cakarnya di batu-batu; dan Burung (Ciung) yang paling senang dan pandai bercerita dan berkata-kata, membuat dan meninggalkan tapak kakinya di batu-batu, membuat arca berbentuk dewa sedang bersila yang sedikit mirip rupanya—tapi belum benar-benar selesai dikerjakan (arca itu ada di Pasir Sinalang). Lalu bagaimana dengan Lutung? Sebab memiliki tangan, ia selain rajin bertapa, juga telah membuat dan mewariskan arca-arca yang indah bentuknya, dengan total 40 arca yang sudah ia kerjakan (arca-arca itu ada di Pasir Kopo).
Kembali ke Sanghyang Dewa Kala yang pergi ke wilayah Bumi bagian barat. Sanghyang Dewa Kala memilih turun di salah satu Gunung yang berbentuk bundar (kini bernama Gunung Bundeur). Ia melihat ke kanan dan ke kiri, berteriak memanggil-manggil, tapi tak ada satupun suara yang menjawab selain suaranya sendiri yang memantul balik dan bergema dari gunung seberang. Karena ia Dewa, ia mencoba melantunkan mantra Hanjuang di mata batinnya, tapi tak terlihat siapa-siapa. Lalu ia mencoba mantra Handeuleum di mata jiwanya, mulailah kelihatan di kejauhan sebagian hewan yang masih cosplay menjadi manusia sedang bertapa, meminta agar menjadi manusia seutuhnya.
Melihat kejadian itu, Sanghyang Dewa Kala berbisik dalam jiwanya, jauh di dasar kalbunya, agar sampai pada telinga para jelmaan manusia. Ia menarik napas panjang tiga kali, lalu berkata:, “Sungguh tekad prihatin. Kalian semua melakoni kesabaran demi sesuatu yang kalian inginkan. Tunggu lebih sabar lagi, aku akan menemui Sanghyang Wenang dan Sanghyang Wening. Ini janjiku: ketika kalian sudah menjadi manusia seutuhnya, kejayaan kalian akan sama dengan jayanya bintang. Walaupun bintang hanya menerangi sebelah dari jagat maha-luas dan tak sampai cahayanya menjangkau seluruh jagat, tapi bintang adalah petunjuk jalan bagi yang dipenuhi kegelapan; petunjuk bagi manusia di lautan, petunjuk manusia di daratan. Dan lagi, bintang tak memiliki waktu meredup, sebab ia melampaui ruang dan menjelajah waktu, tak seperti matahari yang walaupun terang-benderang ia tetap memiliki waktu meredup!”
Tak lama seusai berbisik itu, Sanghyang Dewa Kala kembali terbang ke Kayangan. Ia langsung menemui Sanghyang Wenang dan Sanghyang Wening, mewartakan keinginan jelmaan manusia yang sudah melakoni kesabaran, meminta janji Sanghyang Wenang agar menunaikannya.
“Kala, tanpa perlu kamu beritakan, tentu saja aku melihat semuanya.” Sambut Sanghyang Wenang atas kedatangan Sanghyang Dewa Kala. Tak lama Sanghyang Wenang melanjutkan bicaranya, “Dan aku sudah menampung semua kegelisahan mereka. Sudah aku bicarakan pula pada mereka bahwa, jika siapapun melanggar pantangan dan berbuat seenaknya, jika mereka tak bisa menjaga gunung-gunung, menjaga hutan-hutan, menjaga laut dan pantai, mereka akan langsung berubah menjadi hewan.”
“Adik Kala, aku memang paling tua dan kamu bungsunya. Tapi kamu tetap memiliki kehendak dan keajaiban. Kamu Dewa atas waktu; ruang; dan kejadian.” Sambung Sanghyang Wening. Sanghyang Dewa Kala menunduk-sembah, mengucapkan ampun dan restu. Sanghyang Wening tersenyum dan berkata, “ Wening dan Wenang adalah laku-lampah; baik pikir maupun rasa; baik hidup maupun mati. Dan aku akan turun langsung ke bumi untuk mengabulkan apa yang selama ini mereka inginkan.”
Dikisahkan, sesampainya di bumi dan duduk di hadapan hewan-hewan yang sedang bertapa dan yang tunai melaksanakan tugasnya, Sanghyang Wening berkata, “Cucu-cucu eyang, merapatlah kemari.” Semua hewan yang sedang bertapa itu langsung bergegas merapat dan bersujud tanpa kata, tanpa suara.
“Eyang akan menunaikan janji. Mulai sekarang kalian semua akan menjadi j e l e m a !” Setelah berkata seperti itu, Sanghyang Wening melanjutkan, “Eh, mengapa ini tak manjur. Mengapa kalian masih menjadi hewan? Sebentar, akan eyang ulangi. M u l a i sekarang kalian s e m u a langsung menjadi j e l e m a seutuhnya!”
Hewan-hewan yang di hadapan Sanghyang Wening masih saja berwujud hewan. Semua hewan kebingungan. Mereka bingung, apakah dewa juga punya rasa lupa?
Melihat persoalan itu, Sanghyang Dewa Kala turun ke bumi menghampiri Sanghyang Wening.
“Eyang, dari awal kan janjinya mereka akan menjadi manusia, bukan jelema. Maka tak heran mereka tak berubah wujudnya. Bukankah jelema adalah wujud dari segala nafsu? Maka tak heran, Eyang, karena jelema belum tentu tahu apa arti hidup, hirup, hurip.” Celetuk Sanghyang Dewa Kala.
“Astaga, mengapa Eyang lupa. Untung saja kamu mengingatkan.” Sambung Sanghyang Wening. Tak lama ia melanjutkan, “Cucu-cucu Eyang, maaf tadi ada kesalahan dewa-wi. Sekarang dan mulai detik ini, kalian semua akan menjadi m a n u s i a ! Kalian akan punya rasa manusia; rupa manusia; suara manusia; hati manusia; dan akal manusia untuk belajar apa-apa yang benar—apa-apa yang salah.”
Seketika, semua hewan itu menjadi manusia. Badak melihat macan berupa manusia, macan melihat lutung berupa manusia, lutung melihat ciung berupa manusia. Mereka saling memandang satu sama lainnya berupa manusia.
“Tak usah berterima kasih,” kata Sanghyang Wening, “Sebab bukan Eyang yang merubah rupa kalian. Eyang hanya wakil atas saksiNya yang jauh lebih Agung dari Eyang. Sekarang, Eyang serahkan pada kalian segala cerita yang terjadi di masa silam, yang samar di masa depan. Sebelum Eyang akan kembali ke Kayangan, apakah masih ada yang kalian inginkan?”
“Maaf, Eyang,” kata Ciung sambil menyembah, “Sebelum berubah rupa jadi manusia ini namaku kan Burung Ciung, apakah itu tak perlu diganti?”
“Tak perlu. Karena nama itu tak akan merubah hati dan pikiran. Karena banyak manusia yang memakai nama manusia, namun hati dan pikirannya serupa binatang. Nama itu pada hakikatnya diperuntukkan agar sesuai dengan kepribadian bangsa dan negara, tapi kadang keinginan itu sering bertolak-belakang dengan kenyataannya.”
Mendengar arahan Sanghyang Wening, Ciung masih melontarkan rasa penasarannya. “Punten, Eyang, seperti apa sebetulnya manusia itu?”
“Manusia pada hakikatnya tahu ia hidup dan tahu kapan ia mati.”
“Lalu, Eyang, bagaimana jika aku ingin berganti nama, apa yang mesti saya lakukan, dan siapa yang nanti akan memberikan nama baru itu padaku?”
“Kamu Ciung, atau kalian semua jika ingin berganti nama harus berkelana-mengembara terlebih-dahulu. Sebab, nama yang baik tak bisa dibuat asal, harus direnungi dan dimaknai, harus melalui berbagai rintangan, pembelajaran, dan mempuasai segala hasrat yang menggebu.”
“Dan, Eyang, bagaimana dengan batas-batas wilayah tanah kekuasaan kami? Bagaimana batas-batas pengetahuan kami sendiri?”
“Pembagian tugasnya akan begini: soal tenaga bisa meminjam Badak, keberanian bisa meminjam Macan, kepintaran bisa meminjam Lutung…” Belum usai Sanghyang Wening berkata, Sanghyang Dewa Kala menyambut, “Tapi jangan memakai kebawelan Burung Ciung, nanti repot, bisa-bisa kalian tak bisa diusik setan, tak mempan oleh hasutan jin, dan cerita akan cepat selesai. Biarkan yang bawel dan pandai cerita kita serahkan pada Tukang Mantun.”
“Betul.” lanjut Sanghyang Wening. Lalu ia mengambil tujuh bunga: Keclak Bentang, Sari Ibun, Gandaruwan, Huru Banyu, Salam Miang, Tapak Pajak, dan Kembang Areuy. Setelah itu, Sanghyang Wening mengambil air di Talaga Warna, memasukan bunga tujuh rupa. Lalu bunga-bunga itu dilemparkan ke langit dan turunlah hujan.
“Punten lagi, Eyang. Bagaimana soal batas-batas wilayah kekuasaan kami?” celetuk Ciung.
“Tanah wilayah kekuasaan kalian akan kita namain dengan Nagara Pajajaran. Batas-batasnya antara lain: tanah Ki Badak adanya di sebelah barat, batasnya utara sungai Cidurian. Tanah ki Macan ada di sebelah timur, batasnya selatan sungai Cikeueun. Tanah ki Ciung dan ki Lutung akan Eyang satukan. Tanah yang diapit oleh wilayah barat ki Badak dan ki Kura-kura, dan di sebelah timur wilayah ki Macan. Mengapa disatukan? Sebab wilayahnya akan menjadi pusat (Pajajaran Tengah).”
Ketika Ciung akan kembali mengajukan pertanyaan, Sanghyang Wening melanjutkan, “Dan kalian semua harus mengingatnya baik-baik. Sejauh apapun kalian mengembara, Negara Pajajaran tetap menjadi tanggung-jawab kalian semua. Uruslah agar subur-makmur. Buatkan para pengurus yang mengatur dan mengemban tugasnya masing-masing. Kalau dia laki-laki, dialah rajanya. Kalau dia perempuan, dialah ratunya. Ratu maupun raja harus tetap menjadi indung-bapa rumbiyang jati yang menguasai budi caringin: benerna, bebener, kabener.”
Sanghyang Wening menarik napas panjang, tak lama melanjutkan, “Dan inilah yang paling penting. Jika menjadi manusia harus silih deudeuh, asah, asih, asuh, silih nuduhkeun. Sekarang tak usah lagi bertanya. Silakan berangkat masing-masing, sesuai wilayah masing-masing dan sesuai keinginan masing-masing. Sebab, Eyang sudah waktunya kembali ke Kayangan.”
Fragmen kisah itulah yang dahulu tertunda diceritakan juru pantun di Gunung Sempur, yang tertunda diceritakan juru pantun di Gunung Parungpung. Sesuatu yang tertunda itu kini mesti dirajut rahasianya, dibentuk pola peristiwanya, dan dijadikan model atas pembelajarannya.
*(bersambung)

