Lois Mailou Jones 1905 – 1998

“Saya buat di ChatGPT, Pak.” Jawaban jujur seorang siswa SMP ketika ditanya terkait tugas puisinya. Saya kecewa, lemas, dan mencoba mengingat:

Dalam sebuah forum diskusi guru, terjadi pembahasan yang seru terkait akal imitasi (AI) dan pembelajaran. Sebagian guru percaya bahwa AI adalah ancaman fundamental terhadap kemampuan literasi siswa. Sebagian lain justru melihat AI sebagai instrumen penunjang pembelajaran yang revolusioner dengan menganggap AI sebagai alat yang menjadi sumber inspirasi, memberikan contoh, bahkan memancing diskusi kritis. Kedua pendapat tersebut, tentu bisa dikatakan benar, dan justru di sinilah letak kompleksitas persoalannya.

Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, harus diakui bahwa AI kadang dapat memberikan bantuan dengan sangat baik. Misal, dalam materi puisi, AI mampu menghadirkan beragam model puisi dalam hitungan detik mulai dari sajak bebas, pantun, soneta, hingga haiku. Bagi siswa yang tidak punya akses terhadap banyak buku puisi, ini adalah jendela yang tiba-tiba terbuka lebar. AI juga bisa menjadi teman latihan, misalkan seorang siswa bisa meminta AI mengomentari draf puisinya, meminta saran diksi, atau meminta AI menghasilkan versi alternatif dari puisi yang dibuatnya. Ini serupa dengan memiliki mentor yang tahu segalanya. Lebih jauh, AI memperluas imajinasi tentang kemungkinan bahasa yang biasanya terbatas bagi seorang siswa. Paradoksnya, mungkinkah AI bisa menjadi pisau bermata dua?

Dalam diskusi puisi AI terdapat pertanyaan menarik: katakanlah, jika AI menghasilkan sebuah puisi berdasarkan prompt yang diketik seorang manusia, karya siapakah puisi itu? Jika jawabanya karya manusia, akan tetapi bukan manusia yang meracik ide, diksi, sampai gaya kepenulisannya. Jika dikatakan karya AI, akan tetapi AI tersebut tidak akan memproduksi apa pun termasuk puisi tanpa perintah manusia. Artinya puisi tersebut seperti memiliki status yang ”menggantung” atau belum jelas. Biasnya status tersebut juga akhirnya sejalan dengan sulitnya untuk membedakan: mana hasil buatan manusia tanpa AI dan mana yang dibuat AI atas perintah seorang manusia?

Sekilas, puisi AI dan puisi manusia bisa terasa sangat mirip dan sama. Kemiripan ini, sejatinya, karena AI memang dilatih-dipersiapkan merujuk karya-karya terbaik manusia dari hasil kemampuan generative-nya. AI memang disiapkan untuk dapat meniru pola imaji, rima, ritme, dan struktur dari basis data yang diprogramkan. AI bisa mengolah bahasa umum atau bahasa sehari-hari sedemikian rupa untuk menjadi serupa ”bahasa yang asing”. Dalam perspektif ini, ”pengasingan” atau defamiliarisasi dalam puisi-puisi yang dihasilkan AI ini benar-benar menyita perhatian. Pasalnya, puisi-puisi itu kadang membuat seorang pembaca menjadi takjub dengan upaya ”pengasingan” ini. Secara teknis, puisi AI mampu menghasilkan diksi yang luas, imaji yang tertata, dan ritme yang relatif terjaga. AI menguasai majas dengan baik mulai dari metafora, personifikasi, simile, paradoks, hadir dengan kelancaran yang kadang dianggap ”ciamik”. Hal itu benar-benar mengikuti cara kerja yang sama dengan yang dilakukan seorang manusia ketika membuat suatu karya puisi.

Dari kelebihan penggunaan kemampuan ”pengasingan” bahasa tersebut, ada satu celah kecil yang bisa menjadi titik terang perbedaan puisi karya manusia dan karya AI. Jelas sekali, puisi AI cenderung terlalu rapi, terlalu simetris, terlalu dapat ditebak bangunan tubuhnya. Hal itu berbeda dengan karya-karya manusia yang memiliki pola yang lebih beragam, sulit ditebak, dan ”liar”. Di sinilah, sebagian orang menganggap, keunikan puisi itu justru hadir pada ”efek berantakannya” yang menimbulkan keterkejutan, pada permainan diksi yang bukan pada tempatnya, serta pada ide yang otentik dan sulit ditiru.

Pada perspektif lain, dari soal kedalaman makna dan perasaan, banyak juga yang menganggap bahwa puisi-puisi AI ini tidak memiliki isi atau ”kosong”. Banyak orang berpendapat  bahwa puisi tersebut tidak mampu (atau belum mampu?) menandingi kedalaman emosi dan makna yang dihasilkan oleh puisi buatan manusia. Para pembaca percaya bahwa puisi manusia mengandung apa yang oleh Roland Barthes disebut punctum atau detail kecil yang dapat menjadi pemantik sisi emosional seseorang pembaca  secara subjektif. Alhasil, siapa pun tidak akan percaya bahwa AI akan menjadi saingan manusia dalam membuat puisi.

Dasarnya, AI adalah entitas canggih yang berperan untuk membantu manusia. Dalam konteks humaniora digital, peran tersebut dibagi dengan sistem komputasi yang memiliki kapasitas pemrosesan jauh melampaui kemampuan kognitif manusia. Meskipun, implikasi dari kondisi ini, posisi manusia sebagai subjek pengguna digital menjadi dualisme—antara menguntungkan sekaligus mengkhawatirkan. Jika dalam suatu produksi karya, semisal puisi, manusia meminta bantuan pada AI, sesungguhnya kita melihat ”menyerah”-nya manusia untuk produktif atau menulis karya sastra. Berbeda jika AI dimanfaatkan sebagai teman diskusi, tempat mencari referensi bagi manusia untuk memproduksi karya puisi kemudian.

***

Saya kembali kepada siswa kelas delapan yang datang membawa puisi ChatGPT-nya sambil terkesan menunduk karena malu. Saya tidak memarahinya. Saya justru mengajaknya duduk, dan bertanya: “Kalau kamu yang menulis puisi ini, bagaimana kamu akan mulai menulis?” Ia terdiam sebentar, lalu perlahan mulai berbicara tentang ibunya; suatu malam ketika ibunya terlambat pulang dari kerja, tentang wangi nasi hangat yang dirindukan dari ibunya. Dari percakapan itulah lahir baris-baris yang tidak akan pernah bisa ditulis AI. Baris-baris otentik yang spesifik, penuh perasaan, unik dan hanya dimiliki seseorang untuk bisa menjadi milik orang banyak sekaligus.

Di situlah, menurut saya, letak batas yang sesungguhnya antara puisi manusia dan puisi mesin. Bukan pada keindahan teknisnya. Bukan pada panjang pendeknya baris atau kecanggihan metaforanya. Melainkan pada satu hal sederhana yang tidak bisa diprogram ke dalam mesin mana pun: kenangan dan perasaan.

Pada akhirnya, puisi yang paling berharga bukan yang paling indah kata-katanya. Melainkan yang paling jujur dalam pengalaman yang menghasilkannya, dan kejujuran semacam itu, sampai hari ini, masih sepenuhnya milik manusia. Di sekolah, peran guru yang akhirnya menentukan dalam memberi pemahaman posisi AI dalam pembelajaran, karena dari kasus siswa tadi, bisa saja cara mengajar saya yang perlu evaluasi. Itulah yang membuat saya tidak marah, meski sempat kecewa.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *