Joaquín Sorolla (1863 – 1923)
Muin mematung di ujung anjungan papan. Anjungan itu menjulur ke tengah lautan yang telah kehilangan denyutnya. Tidak tampak gelombang yang berkejaran, apalagi desau yang memecah sunyi; hanya ada hamparan cairan kental yang diam, serupa endapan air cucian piring yang telah lama dibiarkan di dalam ember. Di atasnya, matahari menyerupai bulatan pucat yang sama sekali tidak memancarkan daya panas sedikit pun. Sementara itu, langit memamerkan warna ungu lebam, persis luka pada kulit.
Ia duduk sendirian, menikmati dodol durian pemberian tetangga sambil menonton televisi. Dodol itu manis dan lengket. Saat ia tertawa terpingkal-pingkal melihat komedi di layar televisi, sepotong dodol itu meluncur ke jalur napasnya. Di dalam matanya dunia seketika menyempit. Ia tersedak, meronta, dan mencoba meraih gelas teh, namun hanya berhasil memecahkannya. Ia jatuh bersujud, mencium dinginnya lantai semen, sebelum pandangannya tenggelam dalam kegelapan total.
Kini, Muin menyadari sepenuhnya keberadaannya di tempat asing tersebut. Meski raganya tidak lagi merasakan sakit, rasa sesak di dadanya tetap menetap, sepertinya beban itu harus ia pikul selamanya. Kemudian, matanya menangkap sosok seorang lelaki yang tengah memancing. Lelaki itu mengenakan baju kurung hijau lumut yang telah pudar warnanya. Dari bentuk punggungnya, Muin seketika yakin bahwa itu adalah Zul—kawan masa kecil yang tidak pernah ia jumpai lagi selama berpuluh-puluh tahun.
Zul menoleh perlahan. Wajahnya masih persis seperti saat mereka bersekolah di kampung dulu, namun tatapannya tampak sangat letih, seolah-olah ia telah terjaga selama berabad-abad. Satu hal yang mencolok: kaki kanan Zul kini tampak lurus dan sehat. Kaki itu tidak lagi bengkok atau mengecil seperti saat terakhir kali Muin melihatnya di dunia orang-orang hidup.
“Lama betul kau baru sampai, Muin,” ucap Zul dengan nada santai, seolah-olah mereka hanya sedang menunggu jemputan sampan untuk pergi ke seberang.
Muin mencoba membalas, tetapi tenggorokannya yang tersumbat potongan dodol hanya mampu mengeluarkan suara parau yang tidak jelas. Ia melangkah mendekat, merasakan anjungan papan yang berderit di bawah kakinya. Suara derit itu seketika memicu ingatan lama tentang kejadian di atas panggung balai desa puluhan tahun silam.
Kala itu, mereka masih anak-anak yang gemar berkelahi demi pamer kehebatan. Muin mendorong Zul dari panggung yang tingginya lebih dari satu depa. Zul jatuh terjerembap dengan posisi kaki kanan tertindih bobot tubuhnya sendiri. Bunyi patah tulang yang kering itu terdengar sangat nyaring di telinga Muin. Sejak hari nahas itu, Zul tidak pernah lagi bisa berlari mengejar layang-layang.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan,” kata Zul sambil menarik tali pancingnya yang ternyata tidak memiliki mata pancing maupun umpan. “Kau merasa bersalah karena telah membuatku pincang seumur hidup. Tapi di sini, rasa bersalah itu tidak ada gunanya lagi. Kita semua sedang mengantri untuk hal yang tidak pasti.”
Tiba-tiba, suasana di sekitar anjungan itu bergejolak. Udara yang tadinya mati mendadak bergetar, memicu munculnya potongan-potongan kejadian yang selama ini Muin sembunyikan rapat-rapat. Muin melihat bayangan dirinya sendiri di masa dewasa, berdiri dengan angkuh di depan sebuah bangunan tua. Di sana, Muin tengah menyerahkan sejumlah uang kepada seorang pria untuk melenyapkan catatan utang-piutangnya—dana yang sebenarnya adalah hak para janda dan yatim-piatu di kampung mereka. Muin menyaksikan wajahnya sendiri yang tampak tak bersalah dan penuh tipu daya, sangat kontras dengan citra dirinya sebagai orang yang rajin beribadah di masjid.
Di tempat ini, setiap rahasia Muin tergelar kembali di hadapannya, layaknya pemutaran film pada layar tancap. Muin melihat Zul yang sudah dewasa, duduk di sebuah kursi kayu sambil memandang kakinya yang cacat. Ia melihat Zul yang terpaksa berhenti sekolah dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai pembuat jaring di pinggir sungai, sementara Muin hidup mewah dengan hasil korupsi dana pembangunan jembatan yang seharusnya menghubungkan desa mereka ke kota.
“Kau melihatnya, kan?” tanya Zul sambil tersenyum tipis. “Aku kehilangan masa depanku karena doronganmu di panggung itu. Dan kau membangun masa depanmu di atas penderitaan orang banyak. Sekarang, kita berdua berada di tempat yang sama. Tidak ada yang lebih hebat, tidak ada yang lebih mulia. Tapi setelah tempat ini, aku tidak tahu ke mana aku dan kau akan pergi.”
Muin merasakan ganjalan di lehernya semakin menekan. Ia ingin memohon maaf, ingin bersujud di kaki Zul, namun tubuhnya terasa kaku. Dari arah kegelapan di belakang anjungan, muncul sosok lain yang berjalan dengan langkah gontai. Itu adalah Buyung, teman mereka yang satu lagi. Buyung adalah orang yang paling berani di antara mereka bertiga, namun penampilannya sekarang sangat mengerikan. Lehernya terlihat miring dan ada bekas jeratan tali yang menghitam di sana.
Buyung mati gantung diri setelah ia dituduh menggelapkan dana desa oleh Muin. Muin tahu betul bahwa Buyung tidak bersalah, tetapi ia memilih diam dan memfitnah Buyung agar posisinya di kantor desa tetap aman. Sekarang, Buyung berdiri di depan mereka, matanya melotot menatap Muin dengan penuh kebencian dan dendam. Buyung tidak bicara; ia hanya membuka mulutnya lebar-lebar, dan dari sana keluar ribuan ulat kecil yang kemudian merayap di atas lantai papan. Muin ketakutan bukan main.
“Ya Tuhan, ampuni aku!” teriak Muin dalam batinnya.
“Jangan berisik,” bisik Zul. “Tidak ada Tuhan di sini. Kita berada di tempat Tuhan memalingkan wajah-Nya.”
Muin mencoba berlari menjauh dari anjungan itu, tapi ke mana pun ia melangkah, ia tetap kembali ke posisi semula, tepat di hadapan Zul dan Buyung. Air laut yang kental itu mulai naik perlahan-lahan, membasahi lantai papan, lalu menyentuh ujung kaki Muin. Rasanya sangat dingin, sedingin es yang menusuk hingga ke tulang. Air itu membawa aroma dari masa lalu; aroma keringat, darah, dan air mata yang pernah mereka tumpahkan.
Cahaya di langit semakin meredup, berubah menjadi hitam yang pekat namun tetap memancarkan pendaran keunguan yang aneh. Muin menyadari bahwa tidak akan ada pagi di tempat ini. Ia akan terus berada di sini, merasakan potongan dodol durian yang menyumbat kerongkongannya, sementara ulat-ulat dari mulut Buyung mulai merayap naik ke kakinya.
Ia melihat Zul kembali memancing, menatap air yang tidak bergerak itu dengan penuh kesabaran yang menyiksa. Waktu seolah-olah tidak berjalan maju, melainkan hanya berputar-putar di satu titik yang paling menyakitkan dalam kesadaran mereka. Muin terduduk di lantai papan yang basah. Ia mulai menangis, tapi tidak ada air mata yang keluar, hanya cairan hitam serupa jelaga yang membasahi pipinya.
Ia teringat pada istri dan anak-anaknya di rumah. Apakah mereka sekarang sedang menangisi jenazahnya? Ataukah mereka sedang berebut harta warisan yang ia kumpulkan dengan cara yang tidak halal? Pemikiran itu membuatnya semakin sesak.
“Duduklah, Muin,” ajak Zul tanpa menoleh. “Kita tunggu sampai cairan ini menelan kita sepenuhnya.”
Muin tidak punya pilihan lain. Ia duduk bersila di samping Zul, menatap kegelapan yang membentang luas di hadapan mereka. Rasa haus mulai terasa mencekik, namun ia tahu air di bawah sana bukanlah penawar. Ia menutup matanya, mencoba mencari satu kenangan baik yang pernah ia miliki, namun, yang muncul justru bayangan Buyung yang mengerikan. Sahabatnya itu tampak tergontai lemas dengan leher terjerat tali tambang yang kasar. Tubuhnya berayun pelan dalam ruang gelap, serupa pendulum jam yang telah mati, dengan mata yang menatap kosong ke arahnya.
Kayu anjungan mengerit lirih, ditiup angin hambar yang tak membawa hawa panas maupun dingin. Kesenyapan yang pekat kembali membungkus mereka, diselimuti kebuntuan yang penuh akan sesal yang tak akan menemukan jalan keluar.
