Bogor sebagai Kota Seni Penggagal Rencana

Ödön Tull (1897) Tahun ini, Indonesia, kata orang-orang yang suka menatap langit sambil membuka aplikasi cuaca, sedang kena El Niño. Artinya sederhana: panas lebih panjang. Hujan lebih jarang. Dan manusia mulai akrab lagi sama kipas angin yang bunyinya seperti pesawat mau terbang. Secara teori, El Niño itu emang identik dengan penurunan curah hujan di banyak […]

1970, Boom!

#sastrakertastua1 Beberapa arsip kita kuak dalam kegiatan (“medusa”) membaca dokumentasi sastra. Amsalnya, selalu berurusan dengan tahun 1970 tanpa janji akan mengerti sepenuhnya. Apa ampuhnya tahun itu? Mengapa kerja-kerja pengarsipan awal kita mesti berdiri di sana? Kenapa kerja kita hari ini untuk kenyataan 70-an di sekitar permasalahan dan polemik sastra yang belum sudah? Sebelum ke sana, […]

KAI LURAH DAN BERDIRINYA KOTA PAJAJARAN

Kisah di bawah ini dituturkan oleh Ukat Raja Aya (Kasepuhan Urug Lebak: pada 12-13 Februari 2026), lalu diterus-ceritakan oleh Muhamad Alnoza, dan disalin-tuliskan oleh Teguh Tri Fauzi. Selamat menikmati! *** Dicaritakeun dina hiji mangsa, di kulonen Pulo Jawa, Jumeneung hiji senopati nu dijuluk Kai Lurah. Dina hiji waktu, Kai Lurah dipiwarang ku para karuhun ngabukbak—ngababakan […]

PARABU SINALA ADJI JEUNG GUNUNG TJAMPEA

Kira-kira 16 kilometer kuloneun Bogor, kalereun jalan gede ti Bogor ka Leuwiliang, aya hiji gunung leutik anu ayeuna disarebutna Gunung Cibodas atawa Gunung Tjampea. Baheula mah ngarana teh Gunung Kibodas; sabab batu-batuna meh kabeh barodas. Tina ngaran Kibodas, eta gunung nyorang sababaraha kali ganti ngaran; antarana nyorang disarebut Gunung Sinala, Gunung Sinalang, atawa aya anu […]

BERDIRINYA PAKUAN PAJAJARAN

 (Sebuah Pucklore) Kisah di bawah ini bermula dari Pantun Bogor berjudul Ngadegna Nagara Pajajaran atau sering juga disebut Pakujajar Beukah Kembang, yang konon katanya merupakan tuturan Juru Pantun Ki Buyut Baju Rambeng, lalu diarsipkan oleh Rakean Minda Kalangan, dan disalin ulang oleh Anis Djati Sunda. Kini, kisah itu saya pucklore-kan dengan prosesi adaptasi plus rekonstruksi […]

Dari Orasi ke Selebrasi

foto: humamghyts karena lapangan dan pabrik dibangun oleh kaki yang sama!   Hari buruh atau May Day lahir dari kematian. 1 Mei 1886, buruh di Chicago mati ditembak polisi lantaran berani nuntut sistem kerja yang lebih manusiawi. Bertahun-tahun kemudian di segala penjuru dunia, 1 Mei identik dengan perjuangan buruh yang panjang dan kelam. Setiap tahun, […]

HAJI ARNI: ANTARA STIGMA DAN NORMA SOSIAL

Bagi kebanyakan orang Bogor, ketika mendengar nama ”Haji Arni” yang terlintas pasti adalah orang pelit, koret, dan pedit. Mungkin di antara kita, sering menggunakan ungkapan nama tersebut dalam berbagai situasi perbincangan atau obrolan untuk meledek teman kita. Ajaibnya, siapa pun yang mendengarnya langsung mengerti. Ia adalah semacam kode moral, sebuah cap yang bila ditempelkan pada […]

PUCKLORE: SEBUAH PENGANTAR

SURAT-SURAT UNTUK BOGOR #3 Jika kita membaca serangkaian persoalan folklore, kita akan menemukan seorang yang pertama kali memperkenalkan istilah itu ke dalam dunia ilmu pengetahuan, bernama William John Thoms, seorang ahli kebudayaan antik (antiquarian) dari Inggris. Istilah itu diperkenalkan pertama kali pada waktu ia menerbitkan sebuah artikelnya dalam bentuk surat terbuka dalam majalah The Athenaeum […]

Chairil Anwar: Tubuh yang Rapuh, Ingatan yang Kaku

Ada penyair yang hidupnya terasa seperti sebuah kalimat pendek, tetapi kalimat itu terus bergema setelah titiknya jatuh. Chairil Anwar adalah salah satunya. Ia lahir pada 26 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara, dan meninggal di Jakarta pada 28 April 1949 dalam usia yang baru menginjak dua puluh enam tahun.[1] Ia lahir bukan sebagai monumen, melainkan sebagai […]

E-Book Serial Ramadhan Berbuka Puisi #3

Syahdan. Dari sekian banyak puisi yang dihimpun dalam antologi ini, dan dengan segala perbedaan karakternya masing-masing telah mengajarkan satu hal, yang kami rasa cukup sejalan dengan uraian Wolfgang Iser dalam The Act of Reading, bahwa makna sebuah teks sastra bukan milik teks saja, bukan milik pembaca saja, melainkan lahir di antara keduanya, dalam segala medan fenomena peristiwa pembacaan itu sendiri. […]