Bike to Garden sebagai Bentuk Manifesto Pertahanan dan Perlawanan

“Kami terlahir dari keterasingan yang berlalu-lalang di antara keheningan hutan dan bisingnya jalanan. Kami adalah akar yang terhimpit beton-beton liar, kami tetap bertahan dan akan tumbuh berkembang walau sering terabaikan.” Di antara banyaknya kaum muda-mudi desa yang berkelana ke kota-kota, sebagian dari kami masih memilih bertahan menjadikan desa sebagai ruang untuk berproses dan melakukan hal-hal […]

Ketika Layar Menggantikan Langit Sore: Sebuah Esai tentang Masa Kecil yang Hilang

Edwin Austin Abbey (1852 – 1911) Konon, kita memang selalu merasa kehilangan, salah satunya adalah masa kecil. Bagaimana pun, waktu takkan pernah bisa terulang. Masa lalu takkan pernah memiliki mesin waktu untuk menyambangi kita hari ini. Secara harfiah, itu benar-benar realitas atau kenyataan yang tak bisa ditolak. Kadang, pada suatu malam, ketika sunyi menyerang, hanya […]

Pucklore: yang Lisan dan yang Tertuliskan

Pada hari rabu—22 april 2026, tepat ketika Hari Bumi dirayakan, saya berdiri di Kampung Pensiun-Cianten, Desa Purwabakti, Kecamatan Pamijahan—Kabupaten Bogor, dan memandang reruntuhan rumah warga yang diakibatkan oleh banjir dan longsor. Tanah yang basah sedikit menggunung itu, yang berbau akar plus lumpur, kiranya adalah suasana yang tidak bisa diutarakan sekalipun oleh kata-kata. Melihat peristiwa itu, […]

Jasinga dan Hubungannya yang Silang Sengkarut dengan Bujangga Manik

Syahdan, waktu menjelang lingsir ngulon, tanggal 12 April 2026, saya yang tengah menjalani laku ni’is di rumah Hady, tepatnya di Rongga—Kabupaten Bandung Barat, bak disiram glap seribu. Hal-ihwalnya, kawan saya si filolog sekaligus penyalin lontar kondang ini, ujug-ujug menanyakan suatu pertanyaan di luar dugaan, “apakah kau menemukan Bujangga Manik?”, tepat di sela-sela aktivitas mendongeng saya […]

Ruang Itu Spiritual

Penampilan Rumah Tumbuh Muthmainah (selanjutnya Rutum) tetap tampak biasa saja. Tak ada yang menonjol dan menarik sebagai kontrakan pada umumnya. Halaman kecil yang tak muat bila dimasuki mobil itu dikelilingi berbagai tanaman rambat hias seperti Morning Glory, Bougenville, Wijaya Kusuma, Mandevilla dan Melati Belanda. Demikian kesan beberapa orang yang pernah singgah untuk istirah sejenak, bercengkrama […]

Sisa-sisa Keyakinan yang Belum Habis Dibakar Waktu: Catatan Pinggir dari Diskusi “Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan”

Minggu sore, 5 April 2026, angin datang lebih dulu daripada orang-orang. Ia berputar di halaman Dieu Geura. Menggesek daun. Menyusup ke celah-celah yang tak tertata, seolah bertanya, hari ini, apa api benar-benar akan menyala?  Tema diskusi terdengar seperti judul dari zine fotokopian. Ringkas. Dingin. Nyaris seperti kalimat yang diucap Aan Mansyur dengan tanpa nada: Setiap […]

Memunguti Kunci yang Berserakan

Robert Frederick Blum (1857-1903) Hari ini 14 Februari, kaki menginjak kembali tanah air Indonesia raya. Setelah sekian lama pergi ke tanah rantau mencari penghasilan. Kami, saya dan beberapa teman kembali dengan rencana dan tujuan masing-masing, hanya sisa satu orang yang masih tinggal bersama, bernama Budi Bodong. Ia mengaku tangannya sering tidak membawa keberuntungan, hal ini […]

Khamr

Pencarian saya mengenai “Rutum” (Rumah Tumbuh Muthmainah) tempat seperti apa, akhirnya, menemukan satu titik celah di antara berbagai fungsinya yaitu sebagai tempat minum segala jenis khamr yang memabukkan. Di sinilah tempat yang membuat “orang-orang baik” mengorek kata sampai kabarnya hanya ketemu celaan. Tempat yang bergelimang para pemabuk atau para miras, di mana anggur dan arak […]

Kejutan di Setangkai Bunga Puisi

Stanisław Wyspiański (1869-1907) Jika sebelumnya (dalam pengantar) Syahruljud Maulana membayangkan antologi Serial Ramadan Berbuka Puisi Vol.3 yang dihimpun Halimun Salaka ini sebagai mystery box puisi, sesuatu yang bisa saja menghadirkan kejutan bernilai atau bahkan bisa juga berisi zonk, dalam tulisan penutup ini kami mengelaborasinya dengan memakai metafora Kejutan di Setangkai Bunga Puisi. Bunga dan box […]

Mystery Box Puisi

Christabel Scrymser (c. 1939) Menjelang akhir Ramadhan kemarin, saya coba mentadabburi surah Asy-Syu’ara (Para Penyair). Penyair itu, menurut Tuhan sendiri Sang Maha Penyair, terbagi dalam dua tipe: ada penyair yang disindir habis-habisan, dan adapula penyair yang dimuliakan sekelas syuhada. Tetapi dalam uraian ini saya tidak akan mengkomparasikan keduanya, melainkan dengan pendekatan tadabbur—meskipun tidak sepenuhnya—saya lebih […]